Banjarnegara, Cakralensa.com – Dinginnya malam di dataran tinggi Dieng seolah tak mampu meredam hangatnya suasana Jazz Atas Awan dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026, Jumat (28/8/2026).

Lapangan Pandawa, Dieng, Banjarnegara, dipadati pengunjung yang ingin menikmati pertunjukan musik di tengah suasana khas pegunungan. Sejumlah musisi tampil bergantian sejak sore hingga malam hari.

Jazz Atas Awan menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan pada hari pertama DCF 2026. Musik mulai terdengar dari kawasan venue selepas sore dan semakin meriah ketika malam tiba.

Penampilan Societeit De Harmonie bersama Natasya Almira menjadi salah satu sajian pembuka yang menghangatkan suasana.

Sekitar pukul 19.00 WIB, giliran Barasuara mengambil alih panggung. Grup musik tersebut membawakan sejumlah lagu, termasuk Terbuang dalam Waktu.

Penonton kemudian diajak menikmati warna musik yang berbeda melalui penampilan Jazz mben Sore. Lagu-lagu Indonesia dikemas dengan sentuhan jazz, salah satunya Sepasang Mata Bola karya Ismail Marzuki.

Namun, antusiasme penonton semakin meningkat ketika Yura Yunita muncul di atas panggung.


Penyanyi tersebut membawakan sejumlah lagu populernya, mulai dari Dunia Tipu-Tipu, Jalan Pulang, hingga Tenang. Penampilannya membuat suasana Lapangan Pandawa semakin semarak.

Tak hanya lagu-lagu populer, Yura juga membawakan Bandung dalam bahasa Sunda. Momen tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian karena penonton ikut menyanyikan lagu tersebut bersama-sama.

Di tengah udara Dieng yang dikenal dingin, ribuan suara penonton justru terdengar menghangatkan kawasan Lapangan Pandawa.


Setelah Yura Yunita menyelesaikan penampilannya, Jazz Kotabaru tampil sebagai penutup rangkaian Jazz Atas Awan hari pertama.

Kemeriahan DCF 2026 tidak hanya berlangsung di panggung musik. Sejak hari pertama, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan yang mengangkat potensi budaya dan ekonomi masyarakat Dieng.

Pameran Domba Batur, pameran UMKM, serta pertunjukan seni budaya turut menjadi bagian dari rangkaian acara.

Sebelum Jazz Atas Awan digelar, pengunjung juga dapat menyaksikan Kongkong Budaya yang menghadirkan Sabrang Damar Panuluh atau Noe Letto bersama Gamelan Kiai Kanjeng.


Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana DCF memadukan tradisi lokal dengan pertunjukan seni dan musik modern dalam satu perhelatan.

Memasuki Sabtu (29/8/2026), kemeriahan DCF 2026 akan berlanjut dengan salah satu tradisi yang menjadi identitas utama festival, yakni ritual cukur rambut gimbal.

Setelah agenda budaya tersebut, pengunjung masih akan disuguhi Jazz Atas Awan hari kedua.

Sejumlah musisi dijadwalkan tampil, di antaranya Raim Laode, Kunto Aji, dan Pusakata.

Malam kedua juga akan semakin istimewa dengan penerbangan lampion yang menjadi salah satu momen yang banyak dinantikan dalam rangkaian Dieng Culture Festival 2026.

Perpaduan tradisi, seni, dan musik inilah yang membuat suasana DCF selalu memiliki daya tarik tersendiri. Di tengah lanskap pegunungan Dieng dan udara dinginnya, festival tersebut kembali menghadirkan pengalaman menikmati budaya sekaligus hiburan dalam satu panggung. (Wira)