Articles by "Banjarnegara"
Abrakadabra Konser Adat Air Bersih Aksi Damai Aksi Sosial Alam Analisis Anggaran Daerah Arahan Aset Daerah Aspirasi Asusila Atlet Bali Bandung Bandung Zoo Banjarnegara BANPEM Sekolah Bansos Bantuan Basket Bawaslu Bisnis BMKG BOPO BPK RI BPNT Brimob BSMSS Budaya Budidaya BUMD Bupati Calon Kepala Sekolah CalonKepalaSekolah Cantigi Cirebon Covid 19 CPNS CV DIK CV DIK Bantah Tuduhan Monopoli Daerah Demokrat Depok Desa Dieng Dieng Culture Festival Dieng Culture Festival 2026 Disdik Indramayu DisdikIndramayu Disnaker DPMD DPRD DPRD Indramayu Dugaan Korupsi Dugaan Pungli Edukasi Ekonomi Entertainment FPTI Indramayu Gallery Photo Gallery Video Garda Pemuda Nasdem Garut Gaya Hidup Hak Pekerja Hari Jadi Indramayu Hari Kesaktian Pancasila Hari Santri Nasional Health Hibah Hiburan Hoax Honorer Hukum Hukum & Kriminal HUT Kemerdekaan RI HUT RI HUT TNI Indonesia Indramayu Info Mudik informasi Infrastruktur Inspektorat ITE Jakarta Jambore Basket 2026 Jatibarang Jawa Barat Jawa Tengah JawaBarat Jazz Atas Awan Judi Kajian Religi KAMTIBMAS Kandanghaur Karawang Karnaval SCTV Kejaksaan Kejaksaan Agung Kemerdekaan Kesehatan Kinerja Direksi KNPI KNPI Indramayu KNPI JABAR Kodim 0616 Kodim Indramayu Konflik KONI Konser Ditunda Korupsi APBD KPK KPU Kriminal Kuliner Kunker Lapesdam NU Lebaran Lohbener LPK Kaina Indonesia LSM Gapura LSM Penjara Lucky Hakim Mahasiswa Metro Miras Misteri MLM MTQ Musda Musik Narkoba Nasional Nelayan NKRI NRW Olahraga Olahraga Pelajar Ono Surono Opini Ormas OTO Pameran Pembangunan Pancasila Panjat Tebing Pasar Pasar Jatibarang Patrol PBVSI PC NU PDAM PDI Perjuangan PDIP Pedagang Pelayanan Publik Pelestarian Budaya Pembangunan Pemda Pemerintah Daerah PemkabIndramayu Pemkot Bandung Pemuda Pencurian Pendapatan Pendidikan Pendidikan Indramayu PendidikanIndramayu Pengabdian Pengadaan Buku Pengadaan Sekolah Penonton Kecewa Perbasi Cup Perbasi Indramayu Perda Perdes Peristiwa Perkawinan Anak Perlindungan Anak Perlindungan Konsumen Persatuan Pertamina Pertanahan Pertanian Perumdam TDA Pesantren Pileg Pilkada Pilkades Pilpres PJTKI PJU PKK PNS Politik POLRI Porprov Jabar 2026 Potret PPP Premanisme Prestasi PT BIMJ PTSL Pungutan Liar PUPR Pusaka Pusaka Dalem Ramadan ramadhan Razia Retribusi Pasar Revitalisasi Rutilahu Sampah Sapa Warga SatpolPP SBMI Sejarah Seni Seni Tradisional Sindang Sirojudin Sliyeg Sorotan Sorotan Pendidikan Sosial Sport STPI Sukra Sunatan Masal Tani Teknologi Temuan BPK Tips TKI TKW TNI Tradisi Traffiking Transparansi Transparansi Anggaran Uang Palsu UMKM Universitas Wiralodra Unwir Upacara Voli Volli Wanoja PDI Perjuangan Warisan Budaya Widasari Wiralodra Wisata YSG Kaina Indonesia Zumba


Banjarnegara, Cakralensa.com — Bukan sekadar potong rambut. Bagi masyarakat Dieng, rambut gimbal pada anak memiliki cerita dan ritual tersendiri yang diwariskan lintas generasi.

Sebanyak 13 anak berambut gimbal menjalani prosesi ruwatan dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di kompleks Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Prosesi dimulai dengan kirab. Ke-13 anak tersebut diarak dari halaman rumah sesepuh adat Dieng menuju kompleks Candi Arjuna. Sesampainya di kawasan candi, mereka menjalani jamasan yang dipimpin Bupati Banjarnegara Amalia Desiana.

Setelah ritual jamasan, prosesi berlanjut pada tahap yang menjadi perhatian utama, yakni pemotongan rambut gimbal.

Sesepuh adat Dieng, Mbah Sumanto, memimpin pencukuran tersebut. Sejumlah tamu undangan juga secara bergantian ikut memotong rambut anak-anak yang mengikuti ruwatan.


Namun, sebelum gunting menyentuh rambut mereka, masing-masing anak harus menyampaikan permintaan terlebih dahulu.

Permintaan itu menjadi bagian dari tradisi ruwatan dan tidak selalu sama. Tahun ini, ada yang meminta kalkun, kambing, sepeda, bahkan laptop.

Panitia Ruwatan Anak Berambut Gimbal, Chaerudin, mengatakan tradisi tersebut sudah dilakukan masyarakat Dieng sejak dahulu dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ruwatan rambut gimbal kemudian menjadi bagian dari DCF sejak festival tersebut memasuki penyelenggaraan ke-16.

Chaerudin menjelaskan, berdasarkan kepercayaan masyarakat Dieng, kemunculan rambut gimbal pada anak biasanya didahului demam tinggi selama dua hingga tiga hari.

Setelah kondisi tersebut, rambut anak mulai tumbuh menggimbal.

Ada pula keyakinan bahwa permintaan sang anak harus dipenuhi sebelum rambut tersebut dicukur.

"Kalau permintaannya sudah dikabulkan, baru rambutnya bisa dipotong. Kalau belum, rambut tetap bisa dipotong, tetapi dipercaya akan tumbuh gimbal lagi dan anak bisa kembali sakit," ujar Chaerudin yang juga menjadi pembawa acara dalam prosesi ruwatan.


Kepercayaan tersebut membuat pemotongan rambut bukan sekadar kegiatan mencukur, melainkan menjadi bagian dari ritual yang sarat makna bagi masyarakat Dieng.

Setelah seluruh rambut gimbal dipotong, prosesi belum selesai.

Potongan rambut tersebut kemudian dilarung ke Telaga Balai Kambang yang lokasinya tidak jauh dari kompleks Candi Arjuna.

Rangkaian ruwatan selanjutnya ditutup dengan Ngalap Berkah, sebuah tradisi makan bersama sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Suasana kebersamaan pun terasa ketika masyarakat, pejabat, wisatawan dari berbagai daerah, hingga turis mancanegara berkumpul dan makan bersama.

Bagi Chaerudin, ruwatan anak berambut gimbal menjadi salah satu daya tarik utama DCF karena wisatawan tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi dapat melihat langsung tradisi yang masih dijalankan masyarakat Dieng.

"Tradisi ini tetap dipertahankan sekaligus dikenalkan kepada wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara," ujarnya.

Ruwatan rambut gimbal bukan hanya bagian dari agenda pariwisata Dieng. Tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga mengingatkan agar pengembangan festival dan pariwisata tidak membuat masyarakat kehilangan kendali atas tradisinya sendiri.

Pesan tersebut disampaikan melalui sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Agus Widiatmoko saat pembukaan DCF 2026 di Desa Dieng Kulon, Jumat (28/8).

"Jangan sampai nilai budaya dikorbankan dengan kepentingan ekonomi," kata Fadli.

Menurutnya, ruwatan rambut gimbal mengandung berbagai nilai penting, mulai dari spiritualitas, penghormatan kepada leluhur, gotong royong, hingga hubungan manusia dengan alam.


Karena itu, tradisi tersebut harus tetap menjadi living tradition. Masyarakat lokal perlu tetap ditempatkan sebagai pemilik, pelaku, pengelola, sekaligus pihak yang memperoleh manfaat utama dari keberlangsungan tradisi.

Regenerasi pengetahuan budaya kepada generasi muda juga menjadi kunci agar ruwatan rambut gimbal tidak sekadar menjadi agenda festival tahunan.

Lebih dari sekadar rambut yang dipotong dan dilarung, ritual tersebut menjadi penanda bahwa warisan budaya Dieng masih hidup dan terus menemukan generasi penerusnya. (Wira)


Banjarnegara, Cakralensa.com – Dinginnya malam di dataran tinggi Dieng seolah tak mampu meredam hangatnya suasana Jazz Atas Awan dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026, Jumat (28/8/2026).

Lapangan Pandawa, Dieng, Banjarnegara, dipadati pengunjung yang ingin menikmati pertunjukan musik di tengah suasana khas pegunungan. Sejumlah musisi tampil bergantian sejak sore hingga malam hari.

Jazz Atas Awan menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan pada hari pertama DCF 2026. Musik mulai terdengar dari kawasan venue selepas sore dan semakin meriah ketika malam tiba.

Penampilan Societeit De Harmonie bersama Natasya Almira menjadi salah satu sajian pembuka yang menghangatkan suasana.

Sekitar pukul 19.00 WIB, giliran Barasuara mengambil alih panggung. Grup musik tersebut membawakan sejumlah lagu, termasuk Terbuang dalam Waktu.

Penonton kemudian diajak menikmati warna musik yang berbeda melalui penampilan Jazz mben Sore. Lagu-lagu Indonesia dikemas dengan sentuhan jazz, salah satunya Sepasang Mata Bola karya Ismail Marzuki.

Namun, antusiasme penonton semakin meningkat ketika Yura Yunita muncul di atas panggung.


Penyanyi tersebut membawakan sejumlah lagu populernya, mulai dari Dunia Tipu-Tipu, Jalan Pulang, hingga Tenang. Penampilannya membuat suasana Lapangan Pandawa semakin semarak.

Tak hanya lagu-lagu populer, Yura juga membawakan Bandung dalam bahasa Sunda. Momen tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian karena penonton ikut menyanyikan lagu tersebut bersama-sama.

Di tengah udara Dieng yang dikenal dingin, ribuan suara penonton justru terdengar menghangatkan kawasan Lapangan Pandawa.


Setelah Yura Yunita menyelesaikan penampilannya, Jazz Kotabaru tampil sebagai penutup rangkaian Jazz Atas Awan hari pertama.

Kemeriahan DCF 2026 tidak hanya berlangsung di panggung musik. Sejak hari pertama, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan yang mengangkat potensi budaya dan ekonomi masyarakat Dieng.

Pameran Domba Batur, pameran UMKM, serta pertunjukan seni budaya turut menjadi bagian dari rangkaian acara.

Sebelum Jazz Atas Awan digelar, pengunjung juga dapat menyaksikan Kongkong Budaya yang menghadirkan Sabrang Damar Panuluh atau Noe Letto bersama Gamelan Kiai Kanjeng.


Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana DCF memadukan tradisi lokal dengan pertunjukan seni dan musik modern dalam satu perhelatan.

Memasuki Sabtu (29/8/2026), kemeriahan DCF 2026 akan berlanjut dengan salah satu tradisi yang menjadi identitas utama festival, yakni ritual cukur rambut gimbal.

Setelah agenda budaya tersebut, pengunjung masih akan disuguhi Jazz Atas Awan hari kedua.

Sejumlah musisi dijadwalkan tampil, di antaranya Raim Laode, Kunto Aji, dan Pusakata.

Malam kedua juga akan semakin istimewa dengan penerbangan lampion yang menjadi salah satu momen yang banyak dinantikan dalam rangkaian Dieng Culture Festival 2026.

Perpaduan tradisi, seni, dan musik inilah yang membuat suasana DCF selalu memiliki daya tarik tersendiri. Di tengah lanskap pegunungan Dieng dan udara dinginnya, festival tersebut kembali menghadirkan pengalaman menikmati budaya sekaligus hiburan dalam satu panggung. (Wira)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget