Articles by "Budaya"
Abrakadabra Konser Adat Air Bersih Aksi Damai Aksi Sosial Alam Analisis Anggaran Daerah Arahan Aset Daerah Aspirasi Asusila Atlet Bali Bandung Bandung Zoo Banjarnegara BANPEM Sekolah Bansos Bantuan Basket Bawaslu Bisnis BMKG BOPO BPK RI BPNT Brimob BSMSS Budaya Budidaya BUMD Bupati Calon Kepala Sekolah CalonKepalaSekolah Cantigi Cirebon Covid 19 CPNS CV DIK CV DIK Bantah Tuduhan Monopoli Daerah Demokrat Depok Desa Dieng Dieng Culture Festival Dieng Culture Festival 2026 Disdik Indramayu DisdikIndramayu Disnaker DPMD DPRD DPRD Indramayu Dugaan Korupsi Dugaan Pungli Edukasi Ekonomi Entertainment FPTI Indramayu Gallery Photo Gallery Video Garda Pemuda Nasdem Garut Gaya Hidup Hak Pekerja Hari Jadi Indramayu Hari Kesaktian Pancasila Hari Santri Nasional Health Hibah Hiburan Hoax Honorer Hukum Hukum & Kriminal HUT Kemerdekaan RI HUT RI HUT TNI Indonesia Indramayu Info Mudik informasi Infrastruktur Inspektorat ITE Jakarta Jambore Basket 2026 Jatibarang Jawa Barat Jawa Tengah JawaBarat Jazz Atas Awan Judi Kajian Religi KAMTIBMAS Kandanghaur Karawang Karnaval SCTV Kejaksaan Kejaksaan Agung Kemerdekaan Kesehatan Kinerja Direksi KNPI KNPI Indramayu KNPI JABAR Kodim 0616 Kodim Indramayu Konflik KONI Konser Ditunda Korupsi APBD KPK KPU Kriminal Kuliner Kunker Lapesdam NU Lebaran Lohbener LPK Kaina Indonesia LSM Gapura LSM Penjara Lucky Hakim Mahasiswa Metro Miras Misteri MLM MTQ Musda Musik Narkoba Nasional Nelayan NKRI NRW Olahraga Olahraga Pelajar Ono Surono Opini Ormas OTO Pameran Pembangunan Pancasila Panjat Tebing Pasar Pasar Jatibarang Patrol PBVSI PC NU PDAM PDI Perjuangan PDIP Pedagang Pelayanan Publik Pelestarian Budaya Pembangunan Pemda Pemerintah Daerah PemkabIndramayu Pemkot Bandung Pemuda Pencurian Pendapatan Pendidikan Pendidikan Indramayu PendidikanIndramayu Pengabdian Pengadaan Buku Pengadaan Sekolah Penonton Kecewa Perbasi Cup Perbasi Indramayu Perda Perdes Peristiwa Perkawinan Anak Perlindungan Anak Perlindungan Konsumen Persatuan Pertamina Pertanahan Pertanian Perumdam TDA Pesantren Pileg Pilkada Pilkades Pilpres PJTKI PJU PKK PNS Politik POLRI Porprov Jabar 2026 Potret PPP Premanisme Prestasi PT BIMJ PTSL Pungutan Liar PUPR Pusaka Pusaka Dalem Ramadan ramadhan Razia Retribusi Pasar Revitalisasi Rutilahu Sampah Sapa Warga SatpolPP SBMI Sejarah Seni Seni Tradisional Sindang Sirojudin Sliyeg Sorotan Sorotan Pendidikan Sosial Sport STPI Sukra Sunatan Masal Tani Teknologi Temuan BPK Tips TKI TKW TNI Tradisi Traffiking Transparansi Transparansi Anggaran Uang Palsu UMKM Universitas Wiralodra Unwir Upacara Voli Volli Wanoja PDI Perjuangan Warisan Budaya Widasari Wiralodra Wisata YSG Kaina Indonesia Zumba


Indramayu, CakraLensa.com — Ada yang janggal dalam peringatan Hari Jadi ke-499 Kabupaten Indramayu. Di tengah prosesi sakral Jamasan Pusaka Dalem Darma Ayu Nagari (Wiralodra), yang menjadi bagian penting dari jejak sejarah daerah, justru para pejabat utama Kabupaten Indramayu yang diharapkan hadir tidak tampak di lokasi.

Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah hingga jajaran pimpinan DPRD Indramayu disebut tidak menghadiri prosesi yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Indramayu, Jumat (2/10/2026).

Yang membuat persoalan ini semakin disorot, kegiatan tersebut bukan acara tanpa undangan.

Surat resmi Sekretariat Daerah Kabupaten Indramayu tertanggal 29 September 2026 telah beredar. Surat bernomor 400.14.1.1/2994/Dikbud, ditandatangani secara elektronik oleh Pj. Sekretaris Daerah Aan Hendrajana Muljadi, secara resmi mengundang para pimpinan daerah dan instansi terkait untuk menghadiri Jamasan Pusaka.


Artinya, agenda tersebut telah masuk dalam rangkaian kegiatan resmi dan undangan telah disampaikan kepada para pejabat yang dituju.

Namun ketika prosesi berlangsung, sosok-sosok yang diharapkan menjadi representasi pemerintah daerah justru tidak terlihat.

Kondisi ini sontak memantik kekecewaan keluarga besar trah Raden Aria Wiralodra.

“Kalau Sejarah Sendiri Tak Dihargai, Lalu Apa yang Diperingati?”

Salah satu keturunan Raden Aria Wiralodra, Haris Solihin, tidak menutupi kekecewaannya.

Menurut Haris, ketidakhadiran para pejabat tersebut bukan sekadar persoalan absensi dalam sebuah acara. Jamasan Pusaka menyangkut warisan leluhur dan sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari identitas Kabupaten Indramayu.


“Dengan ketidakhadiran para pejabat di Kabupaten Indramayu dalam kegiatan ini, bagi kami cukup membuktikan bahwa masih kurang rasa memiliki dan kurang rasa menghargai sejarah yang ada di Kabupaten Indramayu,” ujar Haris.

Kritik tersebut menjadi semakin tajam karena prosesi Jamasan Pusaka digelar bertepatan dengan momentum Hari Jadi ke-499 Kabupaten Indramayu.

Bagi keluarga trah Wiralodra, ada ironi ketika pemerintah merayakan usia daerah melalui berbagai rangkaian seremoni, sementara salah satu tradisi yang berkaitan dengan akar sejarah dan peninggalan leluhur justru tidak dihadiri pejabat utama sebagaimana yang mereka harapkan.

Ia menilai pemerintah semestinya tidak hanya hadir ketika sejarah dikemas dalam seremoni besar, tetapi juga menunjukkan perhatian terhadap peninggalan leluhur yang menjadi bagian dari identitas daerah.

Meski kecewa, keluarga besar keturunan Raden Aria Wiralodra memastikan tradisi tersebut tidak akan berhenti hanya karena minimnya kehadiran pejabat.

Para trah, keluarga keturunan Wiralodra dan budayawan akan tetap menjalankan upaya pelestarian pusaka peninggalan leluhur.


Pesan yang disampaikan cukup jelas, pelestarian sejarah tidak boleh bergantung pada hadir atau tidak hadirnya pejabat.

Namun di sisi lain, mereka berharap pemerintah daerah tidak mengambil jarak dari sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan Kabupaten Indramayu.

“Kami berharap pemerintah bisa lebih menghargai dan memperhatikan sejarah serta asal-usul daerah ini. Kami siap bersama-sama mendukung pemerintah, karena sebelum pemerintahan sekarang berdiri, sudah ada sejarah dan pemerintahan yang dibangun oleh para leluhur kita,” kata Haris.

Ketidakhadiran para pejabat dalam prosesi tersebut kini menyisakan pertanyaan yang belum terjawab.

Mengapa para pejabat yang telah menerima undangan resmi tidak hadir dalam Jamasan Pusaka Dalem Darma Ayu Nagari?


Apakah terdapat agenda lain yang bersamaan? Ataukah ada alasan tertentu yang membuat para pimpinan daerah tidak dapat menghadiri prosesi tersebut?

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Indramayu belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan ketidakhadiran Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah maupun jajaran pimpinan DPRD.

Sementara itu, bagi trah Raden Aria Wiralodra, Jamasan Pusaka bukan sekadar acara tahunan.

Ini tentang bagaimana sebuah daerah memperlakukan sejarah yang melahirkan identitasnya sendiri.


Indramayu, CakraLensa.com — Rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Indramayu ke-499 kembali diwarnai tradisi budaya yang sarat makna. Salah satunya adalah prosesi jamasan pusaka, ritual membersihkan benda-benda peninggalan leluhur yang hingga kini masih dijaga keberadaannya.

Bukan sekadar ritual tahunan, jamasan pusaka menjadi momentum untuk merawat warisan budaya sekaligus mempererat tali silaturahmi. Kegiatan tersebut mempertemukan para keturunan Mbah Buyut Raden Bagus Wiralodra, tokoh yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kabupaten Indramayu.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, Caridin, mengatakan sejumlah pusaka bersejarah turut dijamas dalam prosesi tersebut. Pusaka-pusaka itu diyakini menjadi bagian dari peninggalan para leluhur yang dahulu digunakan dalam perjuangan di wilayah Indramayu.

“Ada beberapa pusaka yang dijamas, yang tentunya merupakan pegangan beliau pada saat dulu berjuang di Indramayu, serta beberapa pusaka lainnya seperti keris dan lain sebagainya,” ujar Caridin.

Menurutnya, keberadaan pusaka-pusaka tersebut bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi saat ini tentang perjuangan dan pengorbanan para leluhur dalam membangun daerah.

Karena itu, Caridin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak melupakan sejarah dan tetap menaruh rasa hormat terhadap para pendahulu.

“Kita harus menghormati dan menghargai leluhur kita, karena beliaulah yang menjadikan Indramayu seperti ini,” tegasnya.

Momentum Hari Jadi Kabupaten Indramayu ke-499, lanjut Caridin, hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Peringatan hari jadi harus menjadi refleksi bersama untuk melihat berbagai capaian sekaligus kekurangan yang masih harus diperbaiki.


Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling bergandengan tangan dan bahu-membahu membangun Indramayu agar semakin maju.

Semangat menjaga warisan leluhur dan budaya, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan semangat membangun masa depan. Dengan demikian, nilai-nilai sejarah yang diwariskan para pendahulu tetap hidup, sementara Kabupaten Indramayu terus bergerak menuju daerah yang lebih baik dan maju.

Tradisi jamasan pun menjadi salah satu pengingat bahwa perjalanan panjang Indramayu tidak hanya tentang pembangunan hari ini, tetapi juga tentang menghargai jejak sejarah dan perjuangan para leluhur yang telah meletakkan fondasi bagi generasi penerus.


Indramayu, CakraLensa.com – Kegiatan "Sapa Warga Berbasis Budaya" yang digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Minggu (27/9/2026), mendapat sambutan hangat dan apresiasi dari wakil pimpinan DPRD Kabupaten Indramayu.

Dalam sambutannya di atas panggung, Ketua DPC PDI Perjuangan Indramayu sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Indramayu, H. Sirojudin, S.P., M.Si., menyampaikan dukungan penuh atas terselenggaranya acara yang digagas oleh anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Ono Surono, S.T.

"Saya sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Indramayu menyambut baik kegiatan ini karena sangat bermanfaat, terutama untuk mengembangkan seni dan budaya yang ada di Kabupaten Indramayu," ujar Sirojudin di hadapan masyarakat yang hadir.


Sirojudin menekankan pentingnya pelestarian berbagai kesenian tradisional khas Indramayu yang kini mulai jarang dijumpai. Menurutnya, kegiatan sapa warga ke depan dapat menjadi ajang kompetisi atau perlombaan seni tradisional lokal agar tidak punah ditelan zaman.

"Harapan saya, ke depan dalam kegiatan Sapa Warga Berbasis Budaya ini bisa menampilkan lomba-lomba tradisi tradisional, khususnya seni budaya asli Kabupaten Indramayu seperti terbang, tari topeng, kuda lumping, hingga genjring yang sudah mulai terancam punah," tambahnya.


Melalui kegiatan sapa warga ini, diharapkan masyarakat Indramayu semakin mencintai warisan leluhur serta dapat membangkitkan kembali semangat para pegiat seni lokal untuk terus berkarya dan melestarikan budaya Indramayu. (Wira)


Indramayu, CakraLensa.com – Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jatibarang, Kabupaten Indramayu, berubah menjadi panggung budaya, Minggu (27/9/2026). Berbagai seni tradisional, pelaku seni, sanggar budaya, dan masyarakat dari sejumlah daerah berkumpul dalam kegiatan “Sapa Warga Berbasis Budaya” yang digelar Wakil Ketua DPRD Jawa Barat sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, H. Ono Surono, S.T.

Tak sekadar menjadi ajang pertunjukan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk kembali menghidupkan kesenian tradisional yang mulai jarang ditemui sekaligus mempertemukan masyarakat lintas daerah melalui kebudayaan.

Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan. Masyarakat tidak hanya datang dari Kabupaten Indramayu, tetapi juga dari daerah lain seperti Sumedang dan Subang.

Ono Surono mengatakan, kegiatan “Sapa Warga Berbasis Budaya” merupakan bagian dari upaya untuk terus mendekatkan diri kepada masyarakat melalui pendekatan kebudayaan.

Menurutnya, budaya memiliki posisi penting dalam menjaga identitas bangsa sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman.

“Kebudayaan merupakan jati diri bangsa sekaligus pemersatu dalam merawat kebhinekaan dan gotong royong. Melalui momentum Sapa Warga Berbasis Budaya ini, kami ingin masyarakat semakin sadar akan pentingnya melestarikan seni budaya Nusantara dan seni budaya lokal yang mulai tergerus zaman,” ungkap Ono Surono.


Kegiatan tersebut sebelumnya juga telah digelar di sejumlah wilayah, di antaranya di Gedung Kesenian dan Desa Karanganyar, Kecamatan Pasekan. RTH Jatibarang kemudian menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk kembali menikmati sekaligus mengenal seni budaya tradisional.

Komitmen terhadap pelestarian budaya juga mendapat dukungan dari Ketua DPC PDI Perjuangan Indramayu sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Indramayu, H. Sirojudin, S.P., M.Si.

Dalam sambutannya, Sirojudin menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai keberadaan kegiatan berbasis budaya dapat memberikan ruang bagi para pelaku seni untuk terus berkarya sekaligus mengenalkan kesenian lokal kepada generasi muda.

“Saya sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Indramayu menyambut baik kegiatan ini karena sangat bermanfaat, terutama untuk mengembangkan seni dan budaya yang ada di Kabupaten Indramayu,” ujar Sirojudin.

Ia berharap kegiatan “Sapa Warga Berbasis Budaya” ke depan tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga dikembangkan menjadi ajang perlombaan seni tradisional khas Indramayu.


Menurut Sirojudin, sejumlah kesenian yang kini mulai jarang dijumpai perlu kembali diberikan ruang agar keberadaannya tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

“Harapan saya, ke depan dalam kegiatan Sapa Warga Berbasis Budaya ini bisa menampilkan lomba-lomba tradisi tradisional, khususnya seni budaya asli Kabupaten Indramayu seperti terbang, tari topeng, kuda lumping, hingga genjring yang sudah mulai terancam punah,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Ono Surono. Ia berkomitmen untuk terus mendorong dan mensponsori berbagai kegiatan maupun perlombaan seni tradisional khas Indramayu.

Sejumlah kesenian seperti genjring, terompah, rudat, hingga indren direncanakan kembali dihidupkan melalui kegiatan yang digelar secara berkala.

Semaraknya kegiatan di RTH Jatibarang memperlihatkan bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Pertemuan seniman, sanggar budaya, dan warga dari berbagai daerah juga menjadi ruang pertukaran budaya sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat.


Bagi masyarakat Indramayu, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk kembali melihat dan mengenal kesenian warisan leluhur yang mulai jarang tampil di ruang publik.

Melalui “Sapa Warga Berbasis Budaya”, semangat pelestarian seni tradisional diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan. Ruang bagi seniman lokal, sanggar budaya, dan generasi muda perlu terus dibuka agar berbagai kesenian khas Indramayu tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, kebudayaan bukan hanya tentang pertunjukan di atas panggung. Ia menjadi ruang bertemu, bergotong royong, dan merawat keberagaman sekaligus menjaga agar identitas budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman. (Wira)


Banjarnegara, Cakralensa.com — Bukan sekadar potong rambut. Bagi masyarakat Dieng, rambut gimbal pada anak memiliki cerita dan ritual tersendiri yang diwariskan lintas generasi.

Sebanyak 13 anak berambut gimbal menjalani prosesi ruwatan dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di kompleks Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Prosesi dimulai dengan kirab. Ke-13 anak tersebut diarak dari halaman rumah sesepuh adat Dieng menuju kompleks Candi Arjuna. Sesampainya di kawasan candi, mereka menjalani jamasan yang dipimpin Bupati Banjarnegara Amalia Desiana.

Setelah ritual jamasan, prosesi berlanjut pada tahap yang menjadi perhatian utama, yakni pemotongan rambut gimbal.

Sesepuh adat Dieng, Mbah Sumanto, memimpin pencukuran tersebut. Sejumlah tamu undangan juga secara bergantian ikut memotong rambut anak-anak yang mengikuti ruwatan.


Namun, sebelum gunting menyentuh rambut mereka, masing-masing anak harus menyampaikan permintaan terlebih dahulu.

Permintaan itu menjadi bagian dari tradisi ruwatan dan tidak selalu sama. Tahun ini, ada yang meminta kalkun, kambing, sepeda, bahkan laptop.

Panitia Ruwatan Anak Berambut Gimbal, Chaerudin, mengatakan tradisi tersebut sudah dilakukan masyarakat Dieng sejak dahulu dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ruwatan rambut gimbal kemudian menjadi bagian dari DCF sejak festival tersebut memasuki penyelenggaraan ke-16.

Chaerudin menjelaskan, berdasarkan kepercayaan masyarakat Dieng, kemunculan rambut gimbal pada anak biasanya didahului demam tinggi selama dua hingga tiga hari.

Setelah kondisi tersebut, rambut anak mulai tumbuh menggimbal.

Ada pula keyakinan bahwa permintaan sang anak harus dipenuhi sebelum rambut tersebut dicukur.

"Kalau permintaannya sudah dikabulkan, baru rambutnya bisa dipotong. Kalau belum, rambut tetap bisa dipotong, tetapi dipercaya akan tumbuh gimbal lagi dan anak bisa kembali sakit," ujar Chaerudin yang juga menjadi pembawa acara dalam prosesi ruwatan.


Kepercayaan tersebut membuat pemotongan rambut bukan sekadar kegiatan mencukur, melainkan menjadi bagian dari ritual yang sarat makna bagi masyarakat Dieng.

Setelah seluruh rambut gimbal dipotong, prosesi belum selesai.

Potongan rambut tersebut kemudian dilarung ke Telaga Balai Kambang yang lokasinya tidak jauh dari kompleks Candi Arjuna.

Rangkaian ruwatan selanjutnya ditutup dengan Ngalap Berkah, sebuah tradisi makan bersama sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Suasana kebersamaan pun terasa ketika masyarakat, pejabat, wisatawan dari berbagai daerah, hingga turis mancanegara berkumpul dan makan bersama.

Bagi Chaerudin, ruwatan anak berambut gimbal menjadi salah satu daya tarik utama DCF karena wisatawan tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi dapat melihat langsung tradisi yang masih dijalankan masyarakat Dieng.

"Tradisi ini tetap dipertahankan sekaligus dikenalkan kepada wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara," ujarnya.

Ruwatan rambut gimbal bukan hanya bagian dari agenda pariwisata Dieng. Tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga mengingatkan agar pengembangan festival dan pariwisata tidak membuat masyarakat kehilangan kendali atas tradisinya sendiri.

Pesan tersebut disampaikan melalui sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Agus Widiatmoko saat pembukaan DCF 2026 di Desa Dieng Kulon, Jumat (28/8).

"Jangan sampai nilai budaya dikorbankan dengan kepentingan ekonomi," kata Fadli.

Menurutnya, ruwatan rambut gimbal mengandung berbagai nilai penting, mulai dari spiritualitas, penghormatan kepada leluhur, gotong royong, hingga hubungan manusia dengan alam.


Karena itu, tradisi tersebut harus tetap menjadi living tradition. Masyarakat lokal perlu tetap ditempatkan sebagai pemilik, pelaku, pengelola, sekaligus pihak yang memperoleh manfaat utama dari keberlangsungan tradisi.

Regenerasi pengetahuan budaya kepada generasi muda juga menjadi kunci agar ruwatan rambut gimbal tidak sekadar menjadi agenda festival tahunan.

Lebih dari sekadar rambut yang dipotong dan dilarung, ritual tersebut menjadi penanda bahwa warisan budaya Dieng masih hidup dan terus menemukan generasi penerusnya. (Wira)


Indramayu, Cakralensa.com – Hari pertama Karnaval SCTV yang digelar di Sport Center Indramayu, Sabtu (11/7/2026), berlangsung meriah. Ribuan warga memadati lokasi sejak pagi untuk menikmati berbagai hiburan, mulai dari aktivitas off-air hingga penampilan para artis dan musisi Tanah Air dalam rangka menyambut HUT ke-36 SCTV.

Selama hari pertama, masyarakat disuguhi beragam kegiatan menarik seperti senam massal, lomba mewarnai untuk anak-anak TK dan SD, penampilan marching band, fun mini soccer, parade artis SCTV, serta berbagai wahana di area Jelajah SCTV. Pengunjung juga dapat memanfaatkan layanan Public Service Point untuk perpanjangan SIM dan STNK, serta mengunjungi bazar UMKM yang menghadirkan beragam produk unggulan.

Salah satu penampilan yang berhasil mencuri perhatian pengunjung adalah atraksi penari Jaipong cilik asal Indramayu, Aisyah Maulidah, yang tampil bersama teman-temannya. Dengan balutan busana khas tari Jaipong dan gerakan yang energik, mereka sukses memukau penonton sekaligus memperkenalkan kekayaan seni budaya Indramayu di panggung Karnaval SCTV.

Aisyah Maulidah bukan sosok baru di dunia tari. Penari muda berbakat ini telah menorehkan berbagai prestasi membanggakan, di antaranya Juara II tingkat internasional serta Juara I tingkat nasional dalam ajang tari Jaipong. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa generasi muda Indramayu mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional sekaligus menjadi duta budaya daerah.


Pada siang harinya, SCTV menyiarkan secara langsung kemeriahan Karnaval SCTV mulai pukul 14.00 WIB. Acara dipandu oleh Ben Kasyafani, Fanny Ghassani, Anwar BAB, dan Kayla The Icon dengan menghadirkan penampilan spesial dari Bian Gindas, Rizwan Fadilah, dan Wika Salim.

Kemeriahan juga semakin lengkap dengan kehadiran para pemain sinetron SCTV "Sebening Cinta", yaitu Zoe Jackson, Rizky Nazar, Fandy Christian, dan Dosma Hazebosch, yang menyapa langsung masyarakat Indramayu dan menghibur para penggemarnya.


Karnaval SCTV tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk menampilkan potensi seni dan budaya lokal. Kehadiran penampilan Jaipong cilik yang dibawakan Aisyah Maulidah bersama rekan-rekannya menjadi bukti bahwa talenta muda Indramayu mampu tampil berdampingan dengan artis-artis nasional dalam sebuah panggung hiburan berskala besar. (Wira)


Indramayu, Cakralensa.com - Tradisi Halalbihalal pasca Idul Fitri di Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, kembali berlangsung meriah pada Selasa (24/3/2026). Agenda tahunan bertajuk Karnaval Krasak Sahitya Raksa ini sukses menarik antusiasme ribuan warga dengan menampilkan pawai ogoh-ogoh yang spektakuler.

Sebanyak 19 replika tokoh legenda Nusantara turut ambil bagian dalam karnaval tersebut. Beragam figur ikonik seperti Jaka Tingkir hingga legenda Gunung Merapi ditampilkan dengan penuh kreativitas oleh masing-masing peserta dari setiap RT.

Kuwu Desa Krasak, Khairul Isma Arif, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan tradisi turun-temurun yang telah berlangsung lebih dari 52 tahun.

“Biasanya selalu dilaksanakan di bulan Syawal setelah perayaan Idul Fitri,” ujarnya saat ditemui usai melepas peserta karnaval di depan Balai Desa Krasak.

Ia menjelaskan, setiap peserta diberikan kebebasan berkreasi sesuai tema yang ditentukan panitia. Tahun ini, tema yang diangkat adalah legenda Nusantara, yang diharapkan dapat mengangkat kembali nilai-nilai budaya lokal.

Suasana semakin semarak ketika ribuan warga memadati sepanjang jalan raya Jatibarang–Indramayu usai sholat Magrib. Mereka rela berdesakan demi menyaksikan iring-iringan ogoh-ogoh, patung besar berbahan bambu dan kertas yang menjadi daya tarik utama acara.

Tak hanya warga Desa Krasak, masyarakat dari berbagai wilayah di Kecamatan Jatibarang juga turut hadir meramaikan perayaan tersebut.

Arif juga berpesan kepada generasi muda agar terus menjaga dan melestarikan tradisi budaya.
“Kegiatan adat, kesenian, dan budaya adalah mandat dari leluhur yang wajib kita teruskan,” tuturnya.

Dengan semangat kebersamaan yang tetap terjaga, Halalbihalal di Desa Krasak bukan sekedar hiburan tahunan, tetapi juga menjadi simbol kuat pelestarian budaya dan solidaritas masyarakat. Tradisi ini terus hidup dan berkembang, mempererat persaudaraan sekaligus menjadi kebanggaan Desa Krasak.

Indonesia Memang Kaya akan Khasanah Budaya Bangsa yang dilahirkan dari Nenek Moyang Kita salah satunnya adalah Jenis Kesenian atau tarian di Jawa Barat Yakni Tari Jaipong.
Tari jaipong asal jawa barat

Pengertian Tari Jaipong

Jaipongan adalah sebuah aliran seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman Berasal dari Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu.
Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.

Menyebut Jaipongan sebenarnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul.

Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.
[ads-post]
Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu / Doger / Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu / Doger / Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini.

Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Indarmayu- Pada hari libur ini ( Minggu, 2/11/18 ) Bapak Wakil Bupati Indramayu Drs. H. Supendi. M. Si mengajak keluarga untuk mencintai Produk - Produk Jajanan Lokal, salah satu nya Jajanan Dodol yang terletak di Daerah karangampel Indramayu.

Supendi mengungkapkan bahwa makanan khas memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan keberadaan budaya, karena seiring berjalannya peradaban, makanan memang tidak pernah lepas dari kehidupan, oleh karena itulah kebudayaan erat dan berjalan beriringan dengan kuliner.

Melestarikan budaya memang bukan pekerjaan yang mudah, tapi dengan niat tulus dan usaha yang gigih menjaga budaya menjadi hal yang mudah.

Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah mungkin melestarikan budaya menjadi hal yang mudah, tapi memang tidak begitu adanya. Masyarakat dengan swadaya sendiri bangkit untuk menjaga juga melestarikannya.
[Ads-post]
Yang terpenting adalah melestarikan dan memperkenalkan budaya kita kepada Daerah kita sendiri dan Daerah lain agar setiap orang bisa mengenal dan ikut melestarikan. Bayangkan saja, bagaimana bisa mempertahankan juga melestarikan budaya sendiri tapi kita sendiri tidak tahu budaya kita sendiri.

Selain itu juga hal demikian dapat membantu serta meningkatkan ekonomi keluarga, hal semacam ini perlu sangat di kembangkan sebagai produk - produk unggulan pada sektor kuliner jajanan khas Indramayu. "Pungkas Pria dengan senyum yang khas ini". (Redaksi )

Indramayu,(23/10/2018) Acara sedekah bumi petani penggarap hutan  di wilayah desa Amis kecamatan cikedung  kabupaten Indramayu, Dalam acara ini  mengirim do'a untuk keberkahan bersama para petani.
Sedangkan acara tersebut Hari rabu ( 24-10-2018)  pukul 10 siang sampai selesai. Estimasi peserta yang hadir kurang lebih 10.000 (sepuluh ribu) Anggota F-KAMIS  Dan petani penggarap hutan.

Dalam acara ini di hadiri pendiri forum komunikasi masyarakat indramayu selatan F- KAMIS  TARYADI' Selaku  Dewan pendiri F-kamis dan dihadiri H. yosep ibrahim selaku pembina DPP paguyuban darma'ayu walhi jabar, Front pembela rakyat bandung, Pokja perhutanan sosial jawa barat, gerakan masyarakat bawah indonesia, ( GMBI)  indramayu, (LMP) Laskar merah putih indramayu, Tokoh ulama jawabarat,kiai H .usfuri Dari Compreng kabupaten subang, di bantu lembaga-lembaga lokal indramayu,  dan ketua F- KAMIS, Suherman dan haryadi selaku dewan pendiri F-kamis.

Taryadi selaku Dewan pendiri F - KAMIS mengatakan dan menginginkan agar tanah garapan bisa di garap lagi dan dimiliki rakyat,karena untuk penguatan ekonomi rakyat. "kita menyatukan seluruh kekuatan massa dan selalu berharap ridho Allah SWT, yakinlah perjuangkan kita pasti menang,RAWE-RAWE RANTAS,MALANG-MALANG PUTUNG.
[ads-post]
Kepada perjuangan masyarakat petani penggarap lahan untuk mempertahankan lahan garapan  yang sudah di garap,Sekali menggarap  tetap menang,tuntutannya adalah hak garapan kepada masyarakat sepenuhnya perjuangan kita medapatkan kemenangan bagi petani hutan garap". taryadi.

H.Yosep ibrahim selaku DPP Penguyuban Darma ayu mengatakan, "khususnya kami meminta dari pihak PG pabrik gula PT  rajawali dua cobalah membukakan diri dan membentuk dialog atau bentuk apa saja, (PG)  pabrik gula adalah milik BUMN tapi belum diketahui sejarah ini adalah milik kita semua,bahwa tanah ini milik rakyat bukan milik (PG), sebelum digarap (PG) pabrik gula  PT.Rajawali dua  tanah ini sudah digarap rakyat dulu, kehadirannya PG pabrik gula bukanya mengurangi pengangguran tapi justru menambah pengangguran,karena tidak dibangun dengan sinergi sama rakyat penyangga hutan,sehingga masayarakat akan  mengambil kembali  tanah garap Hutan dari PG pabrik gula dari PT rajawali Dua". Pungkasnya yosep ibrahim.
(Redaksi)

Bulan Oktober merupakan bulan yang sangat istimewa bagi Indramayu  di hari jadi yang ke 491,masyarakat Indramayu di manjakan dengan berbagai macam kegiatan dan hiburan yang menarik mulai dari pagelaran kesenian berakar Tradisi ,pameran Pendidikan mengakat kreasi Pelajar, karnaval Budaya ,pameran pembangunan sampai bakti sosial.

   Banyaknya pertunjukan budaya yang bersifat Informatif ,edukatif ,dan menghibur masyarakat.di bulan oktober ini memang sengaja untuk menyemarakan dan memeriahkan peringatan hari jadi indramayu yang jatuh setiap tanggal 7 bulan Oktober ini, dengan demikian di tahun 2018 ini perjalanan penuh misteri ini menginjak ke491
   
   Kalau kita tengok kebelakang berupa Hutan Belantara 491 tahun yang lalu kini Indramayu menjadi wilayah yang padat penduduk dan ramai dikunjungi para wisatawan domestic maupun pelancong asing karena Destinasi wisata Kabupaten Indramayu sangat menjanjikan untuk dinikmati seperti hamparan pasir lembut Tirtamaya belum lagi pulau Biawak yang sunyi sangat  menarik untuk di kunjungi sedangkan Potensi laut kita indramayu berlimpah ruah dibuktikan dengan setiap tahun bertambah tangkapan ikan nelayan adapun  produksi padi juga mengalami kenaikan dan dijadikan lumbung padi Nasional produksi padi mencapai 1.8 juta ton per tahun
 
   Jumlah Penduduk pada tahun 2017 sebanyak 1,7 juta jiwa ,dengan pertumbuhan penduduk 0,56% Luas Wilayah Indramayu mencapai 209.942 Ha dengan panjang garis pantai 147 Km .Indramayu yang di kenal sebagai kota Mangga memiliki areal persawahan mencapai 117.406,62 Ha ,tambak 26.980,26 ha Perkebunan 8.949,88Ha serta Hutan seluas 30 854,33 Ha
[ads-post]
   Indramayu mempunyai industri berat berskala Nasional yakni PERTAMINA RU VI  Balongan dan LPG  Mundu ,Disamping itu telah berdiri pula pembangkit listrik tenaga Uap (PLTU) yang dapat memasok listrik  se- jawa dan Bali .belum lagi Fasilitas terminal liquid Petrolum Gas kini di Sumur Adem menambah kapasitasnya dengan pembangunan tahap kedua.
 
   Dari Rentang waktu sampai sekarang 1527 M sampai sekarang tercatat Indramayu sudah dipimpin 33 Bupati ,Saat ini Indramayu dipimpin oleh Bupati Hj Anna Sophanah yang merupakan Bupati perempuan Pertama di Indramayu.sejak Raden Arya Wilalodra membangun pedukuhan cimanuk di Indramayu 491 tahun yang lalu.
 
   Di bawah kepemimpinan Hj Anna Sophanah Indramayu terus mengalami peningkatan Infrasrtuktur serta maju secara signifikan .derap Pembangunan terjadi secara merata di segala bidang .jalan dan Jembatan di bangun itu adalah bentuk perhatian khusus kepada masyarakatnya untuk menikmati pembangunan dan memudahkan mobilitas dalam beraktivitas.

   Di tahun ini saja Pemerintah Kabupaten Indramayu telah membangun dua Jembatan,4 bangunan Pemerintahan ,1 pasar kecamatan Jatibarang. tampak hadir artis Nasional Pepi disamping Bupati ikut merasakan kebahagian  warga indramayu ,adapun berdirinya Masjid daerah Mega,"H Mursyid Ibnu Syaffiudin",hal ini sangat menarik dan ramai dikunjungi masyarakat baik dari desa indramayu maupun dari luar Indramayu berdiri dengan sangat megahnya masjid raudlatul jannah setiap harinya tidak pernah sepi dari kunjungan masyarakat .(OTONG,S)

Rombongan sepeda santai Bupati kabupaten indramayu beserta jajarannya sambangi kantor kecamatan arahan setelah bersepada dari alun alun indramayu,Rombongan yang di pimpin langsung oleh Hj.Anna Sopana beserta suami di sambut langsung oleh camat arahan Iing Koswara berlangsung hangat dan penuh rasa kekeluargaan. Kamis 28 September 2018
Camat Aahan dengan rombongan bipati Indramayu

Pada kesempatan itu juga rombongan bupati tersebut menyempatkan waktu untuk senam pagi di halaman kecamatan arahan,setelah senam pagi beristirahat sejenak sambil maka makan ringandan melakukan sesi foto bersama.
[ads-post]
Di waktu yang berbeda camat Arahan Iing Koswara beserta para Kuwu pada saat di mintai keterangan oleh awak media mengatakan,"kami merasa senang dan terhormat rombongan bupati Hj Anna sopana beserta jajarannya Sudi mampir sejenak di kantor kami".

Sementara itu kehadiran rombongan bupati yang mampir di kantor kecamatan sampai di telinga masyarakat,dan menjadi buah bibir,"ibu ana kelihatan lebih cantik klo melihat langsung,selama ini saya cuma lihat ibu bupati di media cetak atau televisi,ibu juga sempat menyapa masyarakat sambil melambaikan tangan".ucap Tika salah satu warga yang menyaksikan.
(Redaksi)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget