Latest Post
Abrakadabra Konser Adat Air Bersih Aksi Damai Aksi Sosial Alam Analisis Anggaran Daerah Arahan Aset Daerah Aspirasi Asusila Atlet Bali Bandung Bandung Zoo Banjarnegara BANPEM Sekolah Bansos Bantuan Basket Bawaslu Bisnis BMKG BOPO BPK RI BPNT Brimob BSMSS Budaya Budidaya BUMD Bupati Calon Kepala Sekolah CalonKepalaSekolah Cantigi Cirebon Covid 19 CPNS CV DIK CV DIK Bantah Tuduhan Monopoli Daerah Demokrat Depok Desa Dieng Dieng Culture Festival Dieng Culture Festival 2026 Disdik Indramayu DisdikIndramayu Disnaker DPMD DPRD DPRD Indramayu Dugaan Korupsi Dugaan Pungli Edukasi Ekonomi Entertainment Gallery Photo Gallery Video Garda Pemuda Nasdem Garut Gaya Hidup Hak Pekerja Hari Kesaktian Pancasila Hari Santri Nasional Health Hibah Hiburan Hoax Honorer Hukum Hukum & Kriminal HUT Kemerdekaan RI HUT RI HUT TNI Indonesia Indramayu Info Mudik informasi Infrastruktur Inspektorat ITE Jakarta Jambore Basket 2026 Jatibarang Jawa Barat Jawa Tengah JawaBarat Jazz Atas Awan Judi Kajian Religi KAMTIBMAS Kandanghaur Karawang Karnaval SCTV Kejaksaan Kejaksaan Agung Kemerdekaan Kesehatan Kinerja Direksi KNPI KNPI Indramayu KNPI JABAR Kodim 0616 Kodim Indramayu Konflik KONI Konser Ditunda Korupsi APBD KPK KPU Kriminal Kuliner Kunker Lapesdam NU Lebaran Lohbener LPK Kaina Indonesia LSM Gapura LSM Penjara Lucky Hakim Mahasiswa Metro Miras Misteri MLM MTQ Musda Musik Narkoba Nasional Nelayan NKRI NRW Olahraga Pelajar Ono Surono Opini Ormas OTO Pancasila Pasar Pasar Jatibarang Patrol PBVSI PC NU PDAM PDI Perjuangan PDIP Pedagang Pelayanan Publik Pelestarian Budaya Pembangunan Pemda Pemerintah Daerah PemkabIndramayu Pemkot Bandung Pemuda Pencurian Pendapatan Pendidikan Pendidikan Indramayu PendidikanIndramayu Pengabdian Pengadaan Buku Pengadaan Sekolah Penonton Kecewa Perbasi Cup Perbasi Indramayu Perda Perdes Peristiwa Perkawinan Anak Perlindungan Anak Perlindungan Konsumen Persatuan Pertamina Pertanahan Pertanian Perumdam TDA Pesantren Pileg Pilkada Pilkades Pilpres PJTKI PJU PKK PNS Politik POLRI Potret PPP Premanisme Prestasi PT BIMJ PTSL Pungutan Liar PUPR Ramadan ramadhan Razia Retribusi Pasar Revitalisasi Rutilahu Sampah Sapa Warga SatpolPP SBMI Sejarah Seni Seni Tradisional Sindang Sirojudin Sliyeg Sorotan Pendidikan Sosial Sport STPI Sukra Sunatan Masal Tani Teknologi Temuan BPK Tips TKI TKW TNI Tradisi Traffiking Transparansi Transparansi Anggaran Uang Palsu UMKM Universitas Wiralodra Unwir Upacara Voli Volli Wanoja PDI Perjuangan Warisan Budaya Widasari Wisata YSG Kaina Indonesia Zumba


Indramayu, Cakralensa.com – GOR Dharma Ayu, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Sabtu (19/9/2026), mendadak bergemuruh. Sorak-sorai suporter dan padatnya penonton mengiringi partai puncak Perbasi Cup Season 2 Tahun 2026.

Bukan sekadar pertandingan biasa. Final turnamen bola basket antarpelajar yang digelar Pengurus Cabang (Pengcab) Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Kabupaten Indramayu itu mempertemukan dua sekolah yang sejak awal menjadi perhatian, yakni SMAN 1 Indramayu dan SMAN 1 Sindang.

Duel panas bahkan terjadi di dua kategori sekaligus. Baik sektor putra maupun putri sama-sama mempertemukan kedua sekolah tersebut.

Hasil akhirnya membuat nama SMAN 1 Sindang menjadi sorotan. Sekolah tersebut berhasil menyapu bersih gelar juara pertama tingkat SMA/K, baik putra maupun putri.


Pencapaian itu menjadi salah satu cerita paling menarik dari Perbasi Cup Season 2 tahun ini. Namun, di balik perebutan trofi dan riuhnya suporter, turnamen tersebut membawa misi yang jauh lebih besar: mencari dan membina calon atlet basket masa depan Kabupaten Indramayu.

Ketua Pengcab Perbasi Kabupaten Indramayu, Herman Indra Susanto, mengatakan Perbasi secara rutin menggelar kompetisi dua kali dalam setahun. Agenda tersebut menjadi bagian dari program pembinaan atlet secara berkelanjutan.

“Alhamdulillah, kita secara rutin menggelar kompetisi setahun dua kali. Tujuannya untuk pembinaan. Cuma memang ada misi lain yang kita selenggarakan sekarang, yaitu kita mau berangkat dan fokus ke ajang Porprov Jabar,” ujar Herman.

Menurut Herman, tingginya antusiasme peserta dan masyarakat menunjukkan bahwa olahraga bola basket memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat Indramayu.

Dukungan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan pertandingan, tetapi juga menjadi energi bagi proses pembinaan atlet.

“Alhamdulillah, support dari masyarakat terhadap Perbasi Cup Season 2 ini luar biasa. Insya Allah kita bisa berangkat ke ajang Porprov dari hasil yang kita selenggarakan ini,” katanya.

Bagi Perbasi Indramayu, kompetisi rutin menjadi sarana penting untuk mengasah kemampuan sekaligus mental bertanding para pemain muda.

Sebab, kemampuan seorang atlet tidak hanya ditentukan oleh teknik bermain. Pengalaman menghadapi tekanan, keberanian mengambil keputusan saat pertandingan, hingga kemampuan menjaga mental ketika berhadapan dengan lawan tangguh juga menjadi bagian penting dalam proses pembentukan atlet.


Persiapan menuju Porprov Jabar 2026 menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan Perbasi Cup Season 2.

Para pemain dari berbagai sekolah mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Dari sinilah proses penjaringan atlet dilakukan untuk menemukan pemain-pemain yang dinilai memiliki potensi dan prestasi.

Herman pun memberikan motivasi kepada para pemain agar tidak takut bermimpi besar dan berani memasang target prestasi.

Ia menegaskan, kondisi maupun keterbatasan yang dimiliki seorang atlet tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti mengejar prestasi.

“Keterbatasan tidak menghalangi kita untuk berprestasi,” tegas Herman.

Pesan tersebut menjadi penting bagi para atlet muda yang masih berada dalam tahap awal perjalanan mereka di dunia olahraga.

Apresiasi juga datang dari Ketua Umum KONI Kabupaten Indramayu, H. Yogi Kurniawan, S.T.

Menurut Yogi, kompetisi seperti Perbasi Cup memiliki fungsi penting dalam proses pembinaan sekaligus pencarian bibit atlet sejak usia pelajar.

“Bagus ya, event-event seperti ini setiap tahun berlangsung dalam rangka mencari bibit-bibit atlet,” ujar Yogi.

Ia menyebut, Perbasi Cup juga menjadi salah satu bagian dari proses persiapan tim basket Kabupaten Indramayu untuk menghadapi Porprov Jabar 2026.


Atlet-atlet dari berbagai sekolah dipantau berdasarkan kemampuan dan prestasinya selama mengikuti kompetisi. Mereka yang memiliki potensi kemudian dapat dipersiapkan untuk masuk dalam kekuatan tim Kabupaten Indramayu.

“Dari sini juga sekaligus pengukuhan tim Porprov, yang terdiri dari beberapa sekolah. Jadi dijaring mana atlet-atlet yang punya potensi dan punya prestasi, akhirnya dibentuk satu tim Porprov yang akan maju di laga nanti Oktober dan November,” jelasnya.

Dengan mekanisme tersebut, kompetisi antarpelajar tidak berhenti ketika pertandingan final selesai. Justru dari kompetisi itulah proses berikutnya dimulai: pemantauan, penjaringan, pembinaan, dan pembentukan tim.

Selain persaingan di dalam lapangan, atmosfer pertandingan juga menjadi daya tarik tersendiri.


Dukungan suporter membuat GOR Dharma Ayu dipenuhi energi pertandingan. Teriakan dan dukungan penonton mengiringi perjuangan para pemain yang tampil di partai final.

Yogi pun mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat.

“Mewahnya sih relatif ya, tapi meriahnya itu luar biasa,” katanya.

Bagi penyelenggara, kemeriahan tersebut menjadi bukti bahwa kompetisi olahraga di tingkat pelajar mampu menarik perhatian masyarakat sekaligus menciptakan ruang positif bagi generasi muda.

Perbasi Cup Season 2 Tahun 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi juara.

Kemenangan SMAN 1 Sindang di sektor putra dan putri menjadi salah satu hasil penting dari kompetisi tersebut. Namun, jauh lebih penting adalah bagaimana turnamen ini menjadi bagian dari proses panjang membangun regenerasi atlet basket Kabupaten Indramayu.


Pembinaan atlet membutuhkan kerja bersama. Perbasi, sekolah, orang tua, KONI, pemerintah daerah, serta masyarakat memiliki peran masing-masing untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan atlet muda.

Dengan kompetisi yang digelar secara rutin, para pemain tidak hanya mendapatkan kesempatan bertanding, tetapi juga belajar menghadapi kemenangan, kekalahan, tekanan, dan persaingan.

Dari lapangan-lapangan sekolah itulah, bibit-bibit baru diharapkan tumbuh. Dan dari Perbasi Cup Season 2, Indramayu kembali menanam investasi untuk masa depan basketnya. Hari ini bertanding sebagai pelajar, esok membawa nama Indramayu di panggung yang lebih tinggi. (Wira)


Indramayu, Cakralensa.com — Pengadaan buku di salah satu sekolah dasar (SD) di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, kini menjadi sorotan. Pasalnya, muncul dugaan belanja buku menggunakan anggaran bantuan pemerintah (BANPEM) dilakukan secara langsung kepada penerbit.

Dugaan tersebut menjadi perhatian karena mekanisme penjualan buku teks pendamping ke satuan pendidikan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan.

Dalam Pasal 63 ayat (1), aturan tersebut secara tegas menyebutkan bahwa penerbit dilarang menjual buku teks pendamping secara langsung ke satuan atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 

Sementara itu, Pasal 64 ayat (1) UU yang sama mengatur bahwa penjualan buku teks pendamping dan buku nonteks dilakukan melalui toko buku dan/atau sarana lain. 

Aturan tersebut menjadi penting ketika dikaitkan dengan dugaan pengadaan buku SDN di Kecamatan Losarang yang disebut menggunakan dana BANPEM.

Informasi yang diterima menyebutkan, buku yang dibeli diduga berasal langsung dari penerbit Intan Pariwara.

Jika transaksi tersebut benar dilakukan langsung antara pihak sekolah dengan penerbit untuk buku teks pendamping, maka mekanismenya patut diperiksa lebih lanjut untuk memastikan kesesuaiannya dengan ketentuan perundang-undangan.

Namun, dugaan tersebut belum dapat disimpulkan sebagai pelanggaran sebelum dokumen pengadaan, jenis buku, pihak penjual, bukti transaksi, serta mekanisme penggunaan dana BANPEM diperiksa secara menyeluruh.


UU Nomor 3 Tahun 2017 tidak hanya mengatur mengenai penerbitan buku, tetapi juga pendistribusian dan penggunaan buku di satuan pendidikan. Pemerintah menyebut UU tersebut mengatur pelaku perbukuan, jenis buku, penerbitan, pendistribusian, penggunaan, penyediaan hingga pengawasan. 

Bahkan, Pasal 63 ayat (2) menyatakan penerbit yang melanggar ketentuan larangan penjualan langsung sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat dikenai sanksi administratif.

Sanksinya sebagaimana tercantum dalam Pasal 63 ayat (3) meliputi peringatan tertulis, penarikan produk dari peredaran, pembekuan izin usaha, dan/atau pencabutan izin usaha.

Artinya, persoalan mekanisme distribusi bukan sekadar urusan administrasi biasa apabila memang ditemukan adanya transaksi yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Di sisi lain, perlu diluruskan pula mengenai regulasi yang disebut sebagai Permendiknas Nomor 11 Tahun 2025. Berdasarkan penelusuran regulasi resmi, peraturan yang berlaku adalah Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 11 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, sehingga peraturan tersebut tidak mengatur mekanisme distribusi buku pendamping. 

Karena itu, dasar hukum terkait larangan penerbit menjual buku teks pendamping secara langsung ke sekolah lebih tepat merujuk pada UU Nomor 3 Tahun 2017, khususnya Pasal 63 dan Pasal 64.


Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Kabupaten Indramayu, Atim Sawano, menilai dugaan tersebut perlu mendapat perhatian serius dan diklarifikasi secara terbuka.

Menurut Atim, penggunaan dana bantuan untuk pembelian buku harus dapat dipertanggungjawabkan, baik dari sisi kebutuhan sekolah maupun mekanisme pengadaannya.

“Kalau benar ada pembelian buku secara langsung kepada penerbit, ini harus dijelaskan secara terbuka. Jangan sampai ada mekanisme yang tidak sesuai aturan, apalagi sumber dananya berasal dari bantuan pemerintah,” kata Atim.

Ia juga meminta pihak sekolah tidak hanya menunjukkan buku yang dibeli, tetapi juga membuka dokumen pendukung transaksi.

Mulai dari rencana kebutuhan, daftar buku, harga satuan, jumlah pembelian, pihak yang menjual, bukti pembayaran, hingga dokumen pertanggungjawaban penggunaan dana.

“Yang harus diperiksa bukan hanya bukunya ada atau tidak. Mekanisme pembeliannya juga harus jelas. Siapa yang menawarkan, siapa yang membeli, kepada siapa uang dibayarkan, dan dasar pemilihannya apa,” ujarnya.

Atim menegaskan, apabila pengadaan tersebut memang dilakukan sesuai ketentuan, maka pihak sekolah seharusnya tidak perlu keberatan memberikan penjelasan.

Sebaliknya, jika ditemukan adanya ketidaksesuaian, pihak berwenang perlu melakukan pemeriksaan berdasarkan dokumen dan fakta yang ada.

Dugaan transaksi langsung antara sekolah dengan penerbit Intan Pariwara tersebut kini menyisakan sejumlah pertanyaan.

Apakah buku yang dibeli merupakan buku teks pendamping? Apakah transaksi dilakukan langsung dengan penerbit atau melalui distributor/toko buku? Berapa nilai pembeliannya? Dari mana sumber dananya? Serta siapa yang menentukan buku tersebut untuk dibeli?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab agar persoalan tidak berhenti sebagai isu di masyarakat.

Terlebih, UU Nomor 3 Tahun 2017 memang memberikan ruang bagi satuan pendidikan untuk menggunakan buku teks pendamping, tetapi mekanisme penjualannya tetap diatur. Pasal 65 menyebut satuan pendidikan dapat menggunakan buku teks pendamping, buku nonteks yang telah disahkan pemerintah pusat, dan/atau buku umum. 

Selain aspek sistem perbukuan, jika dalam proses pengadaan ditemukan dugaan praktik yang berkaitan dengan persaingan usaha tidak sehat, aspek hukum persaingan juga dapat menjadi bagian dari pemeriksaan sesuai fakta yang ditemukan. UU Nomor 5 Tahun 1999 merupakan regulasi tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 

Kini publik menunggu penjelasan dari pihak sekolah, penerbit maupun instansi pendidikan terkait mengenai dugaan pembelian buku menggunakan BANPEM tersebut.

Apakah benar buku dibeli langsung dari penerbit, atau sebenarnya melalui distributor atau toko buku?

Jawaban atas pertanyaan itu penting untuk menentukan apakah mekanisme pengadaan tersebut telah sesuai aturan atau justru perlu diperiksa lebih lanjut. (WH/Tim)


Indramayu, Cakralensa.com — Ratusan calon kepala sekolah (CKS) SD dan SMP di Kabupaten Indramayu harus kembali menunggu kepastian. Setelah menjalani serangkaian tahapan seleksi sejak akhir 2025, rencana pengangkatan mereka hingga kini belum juga terealisasi, bahkan disebut telah dibatalkan.

Kondisi tersebut memantik sorotan DPRD Indramayu. Dewan mempertanyakan alasan pembatalan sekaligus meminta Pemerintah Kabupaten Indramayu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kelanjutan proses pengangkatan para CKS.

Persoalan ini mencuat dalam Rapat Paripurna DPRD Indramayu dengan agenda Jawaban Bupati atas Pandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap Raperda Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026, Kamis (17/9/2026).

Wakil Ketua DPRD Indramayu dari Fraksi PDI Perjuangan, H. Sirojudin, S.P., M.Si., mengatakan persoalan kekosongan kepala sekolah sudah berulang kali menjadi pembahasan DPRD Indramayu.

Namun, di tengah daerah lain yang telah melakukan pelantikan kepala sekolah hasil seleksi, Indramayu justru belum memberikan kepastian terhadap para peserta yang telah mengikuti proses seleksi.

"Jujur, masalah kekosongan kepala sekolah sudah berulang kali dibahas. Daerah lain sudah banyak yang melantik, sedangkan di Indramayu sejak Desember 2025 hingga sekarang malah dibatalkan," ujar Sirojudin seusai rapat.

Sirojudin mengungkapkan, informasi mengenai pembatalan pengangkatan disampaikan oleh Sekretaris Daerah yang mewakili Bupati.

Salah satu alasan yang disampaikan berkaitan dengan adanya pertimbangan atau masukan dari Aparat Penegak Hukum (APH).

Namun, DPRD Indramayu masih mempertanyakan secara rinci apa yang menjadi dasar pembatalan tersebut.

"Saya juga sudah bertemu Bupati di Jakarta bersama pimpinan DPRD. Disebutkan ada masukan dari APH, namun penjelasan rinci dan transparansi belum kami peroleh sepenuhnya," katanya.


Menurut Sirojudin, persoalan tersebut perlu segera diperjelas agar tidak menimbulkan ketidakpastian berkepanjangan bagi para peserta seleksi.

Perhatian DPRD juga tertuju pada ratusan CKS yang telah menjalani tahapan seleksi.

Mereka kini berada dalam posisi menunggu tanpa kepastian kapan proses pengangkatan akan dilanjutkan.

Jika pemerintah daerah memutuskan mengulang proses seleksi, DPRD meminta mekanisme dan alasannya disampaikan secara transparan.

"Saya kasihan kepada mereka yang sudah menunggu berbulan-bulan. Komisi II juga khawatir, kalau proses diulang dan hasilnya tidak jelas, siapa yang bertanggung jawab?" tegas Sirojudin.

DPRD Indramayu menilai para peserta yang telah mengikuti tahapan seleksi berhak mendapatkan penjelasan mengenai status proses yang telah mereka jalani.

Selain nasib CKS, DPRD juga menyoroti keberadaan Pelaksana Tugas (Plt) kepala sekolah yang masih mengisi jabatan kosong.

Kejelasan masa tugas Plt menjadi perhatian karena terdapat informasi mengenai pejabat yang disebut telah berakhir masa tugasnya tetapi masih menjalankan fungsi sebagai kepala sekolah.

Menurut Sirojudin, kondisi tersebut perlu segera ditertibkan secara administratif karena kepala sekolah berkaitan dengan berbagai urusan penting di satuan pendidikan.

Salah satunya adalah pengelolaan administrasi dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Apakah Plt-nya saling bertumpuk? Katanya sudah berakhir masa tugasnya, tapi tetap menjalankan jabatan. Ini bisa memengaruhi administrasi hingga pencairan dana BOS. Harus segera diperjelas," ujarnya.

Untuk mencari titik terang, DPRD Indramayu berencana mengundang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta perwakilan calon kepala sekolah.

Pemanggilan tersebut diharapkan dapat membuka informasi mengenai alasan pembatalan, status proses seleksi, hingga langkah pemerintah daerah selanjutnya.

DPRD Indramayu juga meminta apabila proses seleksi memang harus dilakukan kembali, seluruh tahapan dan mekanismenya dijelaskan secara terbuka.

"Kami ingin semuanya terang. Kalau proses harus diulang, mekanismenya harus jelas dan transparan. Jangan biarkan para calon yang sudah berjuang justru tidak mendapat kepastian," kata Sirojudin.

DPRD berharap persoalan tersebut segera diselesaikan sehingga kekosongan jabatan kepala sekolah tidak terus berlarut dan tidak mengganggu tata kelola pendidikan di Kabupaten Indramayu.

"Segera selesaikan. Dalam waktu dekat kami minta penjelasan semua pihak agar persoalan ini berakhir dengan keadilan," pungkasnya. (Wir/Tim)


Indramayu, Cakralensa.com — Kodim 0616/Indramayu bersama Subdenpom III/3-3 Indramayu melaksanakan pemeriksaan gabungan kendaraan bermotor milik prajurit dan PNS dalam rangka Penegakan Hukum (Gaktib) dan Operasi Yustisi Satuan Tahun 2026, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Upacara Makodim 0616/Indramayu, Jalan Gatot Subroto No. 01, Desa Pekandangan, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, tersebut dimulai pukul 07.30 hingga 08.00 WIB.

Pemeriksaan dipimpin Ps. Pasi Inteldim 0616/Indramayu Kapten Inf Disman, dengan melibatkan personel Staf Intel dan Unit Intel Kodim 0616/Indramayu serta personel Subdenpom III/3-3 Indramayu yang dipimpin Dansubdenpom III/3-3 Indramayu Kapten Cpm Ujang Gofar.

Sebelum pemeriksaan, dilaksanakan apel pengecekan personel dan materiil, dilanjutkan penyampaian arahan mengenai tata tertib pemeriksaan.

Petugas kemudian melakukan pemeriksaan kendaraan secara satu per satu. Pemeriksaan mencakup kelengkapan administrasi berupa STNK, SIM TNI/Umum, KTA dan Surat Izin Jalan (SIJ).


Selain itu, petugas juga memeriksa kondisi fisik kendaraan, meliputi spion, lampu utama, lampu sein, lampu rem, kondisi ban, nomor rangka, nomor mesin serta penggunaan helm standar SNI.

Dari hasil pemeriksaan, sebanyak 26 kendaraan roda dua diperiksa, terdiri dari 20 unit kendaraan dinas dan 6 unit kendaraan pribadi. Sementara kendaraan roda empat dinas maupun pribadi nihil.

Secara umum, mayoritas personel telah memenuhi ketentuan administrasi dan kelengkapan kendaraan. Namun, petugas masih menemukan 1 temuan minor, antara lain administrasi kendaraan yang mendekati masa berlaku.

Terhadap temuan tersebut, petugas memberikan teguran dan penekanan kepada personel terkait agar segera melakukan pembenahan dan memperpanjang dokumen kendaraan sebelum masa berlakunya habis.

Ps. Pasi Inteldim 0616/Indramayu Kapten Inf Disman mengatakan, pemeriksaan gabungan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kepatuhan personel terhadap aturan dan ketentuan yang berlaku.

“Pemeriksaan ini tidak hanya berorientasi pada penertiban, tetapi juga sebagai langkah preventif untuk meningkatkan kesadaran personel terhadap pentingnya kelengkapan administrasi dan kondisi kendaraan yang memenuhi standar keselamatan. Temuan minor yang ada langsung kami tindak lanjuti dengan teguran dan penekanan untuk segera diperbaiki,” ujar Kapten Inf Disman.

Sementara itu, Dandim 0616/Indramayu Letkol Arm Tulus Widodo, S.E., M.Han. menegaskan bahwa disiplin dan kepatuhan terhadap hukum merupakan bagian penting dalam mendukung profesionalisme prajurit dan PNS di lingkungan satuan.

“Kedisiplinan harus dimulai dari hal-hal yang sederhana, termasuk tertib administrasi dan kepatuhan dalam berkendara. Melalui kegiatan Gaktib dan Operasi Yustisi ini, kami ingin memastikan seluruh personel Kodim 0616/Indramayu memahami serta melaksanakan ketentuan yang berlaku, sehingga dapat mendukung pelaksanaan tugas secara aman, tertib dan profesional,” tegasnya.


Menurutnya, pemeriksaan kendaraan juga menjadi langkah untuk meminimalisir potensi pelanggaran lalu lintas maupun risiko kecelakaan saat personel melaksanakan aktivitas kedinasan maupun kegiatan sehari-hari.

Kegiatan pemeriksaan gabungan tersebut berlangsung tertib dan aman. Data hasil pemeriksaan selanjutnya menjadi bahan evaluasi dan laporan sebagai bagian dari pembinaan disiplin serta penegakan hukum di lingkungan Kodim 0616/Indramayu.

Tertib Administrasi, Disiplin Berkendara, Patuh Hukum, dan Utamakan Keselamatan.


Indramayu, Cakralensa.com – Genap satu tahun menjalankan amanah sebagai jajaran Direksi Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Darma Ayu (TDA) Kabupaten Indramayu, kinerja Direktur Utama Nurpan dan Direktur Umum Sunaryo mulai menjadi sorotan.

Memasuki tahun kedua masa jabatan yang berlangsung hingga 2027, publik kini menanti keterbukaan mengenai sejumlah target yang sebelumnya dituangkan dalam kontrak kinerja direksi.

Sedikitnya terdapat empat indikator utama yang menjadi tolok ukur kinerja manajemen, yakni penurunan tingkat kebocoran air atau Non Revenue Water (NRW), peningkatan pendapatan perusahaan, efisiensi biaya operasional, serta peningkatan efektivitas penagihan rekening pelanggan.

Namun, setelah satu tahun berjalan, capaian terbaru dari keempat target tersebut belum banyak diketahui publik secara terbuka.

Kondisi tersebut kemudian mendapat sorotan dari LSM Gapura Indramayu.

Rudi, Ketua LSM Gapura, menilai kontrak kinerja dan fakta integritas yang telah ditandatangani jajaran direksi tidak semestinya berhenti sebagai dokumen administratif atau seremoni semata.

Menurutnya, setiap komitmen yang telah dibuat harus dapat dibuktikan melalui capaian yang terukur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Kalau sejak awal sudah menyatakan sanggup, maka konsekuensinya harus siap dievaluasi ketika target tidak tercapai,” ujar Rudi.

Empat Target yang Kini Dipertanyakan

Dalam kontrak kinerja Direksi Perumdam TDA masa bakti 2025–2027, terdapat sejumlah target yang cukup signifikan.

Untuk tingkat kebocoran air, misalnya, NRW ditargetkan turun dari 34,76 persen menjadi 30 persen.

Dari sisi pendapatan, perusahaan ditargetkan mengalami peningkatan dari sekitar Rp223 miliar menjadi Rp376 miliar.

Sementara itu, rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) ditargetkan turun dari 95 persen menjadi 87 persen.

Adapun efektivitas penagihan rekening pelanggan ditargetkan meningkat dari 86 persen menjadi 90 persen.

Keempat indikator tersebut kini menjadi pekerjaan rumah bagi jajaran direksi.

Pertanyaannya sederhana, tetapi membutuhkan jawaban berbasis data: sejauh mana target tersebut telah dicapai setelah satu tahun masa kepemimpinan berjalan?

Publik tentu ingin mengetahui apakah NRW sudah mendekati 30 persen, pendapatan telah mengalami peningkatan signifikan, BOPO berhasil ditekan, dan efektivitas penagihan rekening pelanggan sudah mencapai target.

Bagi Rudi, data tersebut penting dibuka agar masyarakat tidak hanya menerima pernyataan mengenai optimisme peningkatan kinerja, tetapi juga dapat melihat hasil konkretnya.

“Komitmen dua tahun itu harus dibuktikan dengan laporan kinerja yang transparan. Bukan hanya pernyataan optimistis mengenai peningkatan keuntungan dan penurunan kerugian,” katanya.

Target Pendapatan Besar, Persoalan Air Baku Disorot

Selain mempertanyakan capaian empat indikator tersebut, LSM Gapura juga menyoroti target peningkatan pendapatan Perumdam TDA yang dinilai cukup tinggi.

Menurut Rudi, peningkatan pendapatan dari sekitar Rp223 miliar menjadi Rp376 miliar tentu membutuhkan strategi serta dukungan infrastruktur yang kuat.

Persoalannya, kata dia, perusahaan masih dihadapkan pada tantangan mendasar, terutama terkait ketersediaan air baku dan infrastruktur pendukung.

Berbagai rencana kerja sama maupun terobosan dengan sejumlah pihak, menurutnya, tidak otomatis menjamin peningkatan pendapatan apabila kapasitas sumber air baku belum mampu menopang kebutuhan pelayanan.

“Persoalan air baku harus menjadi perhatian utama,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar orientasi peningkatan pendapatan, termasuk melalui kerja sama dengan sektor industri, tidak sampai menggeser kepentingan masyarakat sebagai pelanggan utama layanan air bersih.

“Jangan sampai mengejar keuntungan, tetapi pelayanan kepada masyarakat justru menurun,” tegasnya.


KPM Diminta Jangan Hanya Terima Laporan Administratif

Sorotan terhadap kinerja direksi juga diarahkan kepada pemegang kewenangan evaluasi BUMD.

Sebagai Kuasa Pemilik Modal (KPM), Bupati Indramayu Lucky Hakim dinilai memiliki peran penting untuk memastikan kontrak kinerja direksi benar-benar dievaluasi secara objektif.

Rudi meminta evaluasi tidak hanya dilakukan berdasarkan laporan administratif, tetapi juga mempertimbangkan kondisi riil perusahaan dan kualitas pelayanan yang dirasakan masyarakat.

Menurutnya, evaluasi harus mampu menjawab dua hal sekaligus: target mana yang telah tercapai dan indikator mana yang masih tertinggal.

Jika terdapat target yang belum tercapai, penyebabnya juga harus dibuka secara terang. Apakah karena persoalan internal manajemen, keterbatasan sumber daya, kondisi infrastruktur, ketersediaan air baku, maupun faktor lainnya.

“Kalau memang tidak mampu mencapai target, harus berjiwa besar dan legowo untuk dievaluasi, termasuk mempertimbangkan mundur dari jabatan,” tegas Rudi.

Meski demikian, ia menekankan bahwa penilaian terhadap keberhasilan maupun kegagalan direksi harus tetap didasarkan pada data yang dapat diverifikasi.

Data tersebut antara lain laporan keuangan, tingkat NRW, pendapatan, BOPO, efektivitas penagihan, kualitas distribusi, kontinuitas pelayanan, hingga indikator pelayanan lainnya.

Publik Menunggu Angka, Bukan Sekadar Janji

Kini, Perumdam TDA berada pada momentum penting untuk membuka capaian kinerja tahun pertama kepemimpinan direksi.

Empat pertanyaan utama masih menunggu jawaban: berapa tingkat NRW saat ini? Berapa pendapatan yang telah dicapai? Berapa rasio BOPO terbaru? Dan sejauh mana efektivitas penagihan rekening pelanggan telah meningkat?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menjadi gambaran awal apakah manajemen Perumdam TDA masih berada di jalur yang tepat untuk mengejar target kontrak kinerja hingga 2027.

Transparansi menjadi semakin penting karena Perumdam TDA merupakan BUMD yang bergerak di sektor pelayanan dasar masyarakat.

Karena itu, ukuran keberhasilan direksi tidak semata-mata soal laba atau pendapatan perusahaan. Kualitas pelayanan, kontinuitas aliran air, pengendalian kebocoran, efisiensi operasional, ketersediaan air baku, hingga kepuasan pelanggan juga harus menjadi bagian penting dalam evaluasi.

Pada akhirnya, sorotan terhadap Nurpan sebagai Direktur Utama Perumdam TDA bukan sekadar persoalan jabatan, melainkan menyangkut pembuktian terhadap kontrak kinerja yang telah disepakati.

Jika target berhasil dicapai, manajemen tentu layak mendapatkan apresiasi. Namun, jika masih terdapat target yang jauh dari harapan, langkah korektif dan evaluasi perlu segera dilakukan.

Sebab bagi masyarakat Indramayu, yang dibutuhkan bukan hanya fakta integritas di atas kertas, tetapi bukti nyata bahwa Perumdam TDA mampu memberikan pelayanan air bersih yang lebih baik sekaligus menjaga kesehatan perusahaan. (WH)


Indramayu, Cakralensa.com — Geliat bola basket usia dini di Jawa Barat kembali bergairah. Sebanyak 15 tim tingkat SD dan SMP dari berbagai daerah di Jawa Barat ambil bagian dalam YSG Kaina Indonesia Basketball Jambore 2026 yang digelar di GOR Dharma Ayu, Kabupaten Indramayu.

Turnamen yang digagas LPK Kaina Indonesia ini bukan sekadar ajang perebutan gelar juara. Kompetisi tersebut menjadi ruang bagi para atlet muda untuk mengasah kemampuan, menambah jam terbang, sekaligus bertukar pengalaman dengan pemain dari daerah lain.

Direktur LPK Kaina Indonesia sekaligus Ketua Panitia YSG Kaina Indonesia Basketball Jambore 2026, Teguh Adi Koesoemah Putra, mengatakan turnamen tersebut memang dirancang sebagai bagian dari upaya pengembangan bola basket sejak usia dini.

“Tujuan kegiatan ini untuk peningkatan atau pengembangan bola basket usia dini. Pesertanya dari SD dan SMP yang ada di wilayah Jawa Barat,” ujar Teguh, Sabtu (05/09/2026).

Yang membuat turnamen ini semakin menarik, para pemenang tidak berhenti sampai pada kompetisi tingkat Jawa Barat. Mereka akan melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional melalui Champion League.


Sementara itu, panitia juga menyiapkan skema hadiah berupa voucher bagi para juara. Voucher tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung keikutsertaan pada kompetisi tingkat nasional.

Ada hal berbeda yang ingin dibangun LPK Kaina Indonesia melalui turnamen tersebut. Selain menghadirkan persaingan di lapangan, panitia mencoba menghidupkan kembali suasana entertainment dalam kegiatan olahraga. Konsep tersebut diharapkan membuat pertandingan menjadi lebih menarik, baik bagi atlet maupun penonton.

“Kita mencoba memadukan antara entertainment dengan olahraga. Kalau dulu waktu SMP mungkin ada dance dan sebagainya, nah ini sudah mulai dipadukan lagi,” kata Teguh.

Menurutnya, perpaduan olahraga dan hiburan tersebut juga menjadi upaya untuk menghidupkan kembali atmosfer kegiatan olahraga di Indramayu.

Turnamen ini sekaligus menjadi penyelenggaraan perdana. Namun, LPK Kaina Indonesia memastikan kegiatan serupa diharapkan dapat kembali digelar pada masa mendatang dengan menyesuaikan kalender kompetisi Perbasi.


Teguh juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kondisi atlet muda. Sebab, padatnya agenda turnamen dapat membuat waktu pemulihan pemain menjadi sangat terbatas.

“Dari turnamen sebelumnya sampai turnamen yang ke depan jaraknya tidak boleh pendek. Kasihan atletnya,” ujarnya.

Bagi Teguh, salah satu manfaat penting dari turnamen tingkat Jawa Barat adalah terbukanya kesempatan bagi atlet Indramayu untuk berinteraksi langsung dengan pemain dari daerah lain.

Ia berharap para pemain muda Indramayu tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru selama mengikuti kompetisi.

“Harapannya, khususnya atlet-atlet di Indramayu mendapat treatment, sharing ataupun transfer skill dari kabupaten-kabupaten lain, sehingga ke depannya Indramayu bisa lebih maju lagi,” tutur Teguh.

Ia pun memberikan pesan sederhana kepada seluruh peserta yang bertanding.

“Semangat, sportif, dan jaga emosi,” pesannya.

Sementara itu, KONI Kabupaten Indramayu memberikan apresiasi terhadap langkah LPK Kaina Indonesia menggelar turnamen basket tingkat SD dan SMP se-Jawa Barat tersebut.

Apresiasi disampaikan Sekretaris KONI Indramayu, H. Maman Kostaman. Menurutnya, keterlibatan pihak swasta dalam pembinaan olahraga sangat penting untuk memperkuat proses regenerasi atlet.

“Saya memberikan apresiasi kepada LPK Kaina yang sudah bisa melaksanakan turnamen basket SD-SMP se-Jawa Barat,” kata Maman.

Ia menilai pembinaan olahraga tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan organisasi olahraga. Dunia usaha maupun lembaga swasta juga memiliki peran strategis dalam menciptakan ekosistem pembinaan atlet.

“Dunia olahraga ini bukan hanya kewajiban pemerintah dan KONI. Entitas swasta juga harus bisa mendorong bagaimana pembibitan dunia olahraga ini bisa berjalan,” ujarnya.

Menurut Maman, bola basket memiliki basis penggemar yang cukup besar di Indramayu. Sejumlah klub juga telah berkembang dan menjadi bagian dari pembinaan atlet di daerah.

Karena itu, usia SD dan SMP dianggap menjadi fase penting dalam menyiapkan atlet masa depan.

“Usia emas ini dimulai dari SD, SMP sehingga nanti diharapkan menjadi atlet masa depan dalam jangka waktu lima sampai tujuh tahun,” jelasnya.

Melihat antusiasme peserta dan penonton, Maman berharap YSG Kaina Indonesia Basketball Jambore tidak berhenti pada pelaksanaan perdana.


Ia bahkan mendorong agar turnamen tersebut dapat menjadi agenda tahunan di Kabupaten Indramayu.

“Tadi saya sudah ngobrol dengan Mas Teguh, event yang diadakan Kaina ini bisa menjadi event tahunan. Dan kalau se-Jawa Barat, luar biasa. Indramayu bisa mengadakan turnamen basket SD-SMP se-Jawa Barat,” katanya.

Maman juga menyoroti kualitas permainan atlet muda yang bertanding. Menurutnya, kemampuan teknik dasar para pemain sudah cukup terlihat, mulai dari penguasaan bola hingga kemampuan dribble.

Ia menilai modal tersebut harus dijaga melalui latihan yang berkesinambungan.

“Ini tergantung daripada kontinuitas pelatihan dan metode pelatihan,” ujarnya.

Maman menyebut Indramayu sebenarnya memiliki modal yang cukup baik untuk mengembangkan olahraga basket. Selain klub yang mulai berkembang, Indramayu juga memiliki pelatih yang telah memiliki sertifikasi.

Namun, pembinaan tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara Perbasi, KONI, klub, pelatih, sekolah, dan orang tua agar potensi atlet muda dapat berkembang secara maksimal.

“Bagaimana sinergi nanti antara Perbasi Indramayu, KONI, kemudian kalau setingkat SD ini dengan para orang tua,” katanya.

Ia menambahkan, penampilan para atlet dalam turnamen menunjukkan bahwa kemampuan dasar basket sudah mulai terbentuk sejak usia dini.

“Penguasaan teknik, dribble dan sebagainya sudah kelihatan. Di usia dini juga sudah terlihat. Tinggal bagaimana kontinuitas pelatihan mereka. Teknik-teknik dasar mereka sudah bagus sekali,” pungkasnya.


YSG Kaina Indonesia Basketball Jambore 2026 pun menjadi lebih dari sekadar pertandingan. Dari GOR Dharma Ayu Indramayu, turnamen ini menjadi salah satu panggung untuk melihat sekaligus menempa calon-calon atlet basket masa depan Jawa Barat.

Jika pembinaan, kompetisi, dan dukungan berbagai pihak terus berjalan berkesinambungan, bukan tidak mungkin dari lapangan-lapangan basket usia dini inilah kelak lahir pemain yang membawa nama Indramayu dan Jawa Barat ke level nasional bahkan lebih tinggi. (Wira)


Banjarnegara, Cakralensa.com — Bukan sekadar potong rambut. Bagi masyarakat Dieng, rambut gimbal pada anak memiliki cerita dan ritual tersendiri yang diwariskan lintas generasi.

Sebanyak 13 anak berambut gimbal menjalani prosesi ruwatan dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di kompleks Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Prosesi dimulai dengan kirab. Ke-13 anak tersebut diarak dari halaman rumah sesepuh adat Dieng menuju kompleks Candi Arjuna. Sesampainya di kawasan candi, mereka menjalani jamasan yang dipimpin Bupati Banjarnegara Amalia Desiana.

Setelah ritual jamasan, prosesi berlanjut pada tahap yang menjadi perhatian utama, yakni pemotongan rambut gimbal.

Sesepuh adat Dieng, Mbah Sumanto, memimpin pencukuran tersebut. Sejumlah tamu undangan juga secara bergantian ikut memotong rambut anak-anak yang mengikuti ruwatan.


Namun, sebelum gunting menyentuh rambut mereka, masing-masing anak harus menyampaikan permintaan terlebih dahulu.

Permintaan itu menjadi bagian dari tradisi ruwatan dan tidak selalu sama. Tahun ini, ada yang meminta kalkun, kambing, sepeda, bahkan laptop.

Panitia Ruwatan Anak Berambut Gimbal, Chaerudin, mengatakan tradisi tersebut sudah dilakukan masyarakat Dieng sejak dahulu dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ruwatan rambut gimbal kemudian menjadi bagian dari DCF sejak festival tersebut memasuki penyelenggaraan ke-16.

Chaerudin menjelaskan, berdasarkan kepercayaan masyarakat Dieng, kemunculan rambut gimbal pada anak biasanya didahului demam tinggi selama dua hingga tiga hari.

Setelah kondisi tersebut, rambut anak mulai tumbuh menggimbal.

Ada pula keyakinan bahwa permintaan sang anak harus dipenuhi sebelum rambut tersebut dicukur.

"Kalau permintaannya sudah dikabulkan, baru rambutnya bisa dipotong. Kalau belum, rambut tetap bisa dipotong, tetapi dipercaya akan tumbuh gimbal lagi dan anak bisa kembali sakit," ujar Chaerudin yang juga menjadi pembawa acara dalam prosesi ruwatan.


Kepercayaan tersebut membuat pemotongan rambut bukan sekadar kegiatan mencukur, melainkan menjadi bagian dari ritual yang sarat makna bagi masyarakat Dieng.

Setelah seluruh rambut gimbal dipotong, prosesi belum selesai.

Potongan rambut tersebut kemudian dilarung ke Telaga Balai Kambang yang lokasinya tidak jauh dari kompleks Candi Arjuna.

Rangkaian ruwatan selanjutnya ditutup dengan Ngalap Berkah, sebuah tradisi makan bersama sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Suasana kebersamaan pun terasa ketika masyarakat, pejabat, wisatawan dari berbagai daerah, hingga turis mancanegara berkumpul dan makan bersama.

Bagi Chaerudin, ruwatan anak berambut gimbal menjadi salah satu daya tarik utama DCF karena wisatawan tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi dapat melihat langsung tradisi yang masih dijalankan masyarakat Dieng.

"Tradisi ini tetap dipertahankan sekaligus dikenalkan kepada wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara," ujarnya.

Ruwatan rambut gimbal bukan hanya bagian dari agenda pariwisata Dieng. Tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga mengingatkan agar pengembangan festival dan pariwisata tidak membuat masyarakat kehilangan kendali atas tradisinya sendiri.

Pesan tersebut disampaikan melalui sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Agus Widiatmoko saat pembukaan DCF 2026 di Desa Dieng Kulon, Jumat (28/8).

"Jangan sampai nilai budaya dikorbankan dengan kepentingan ekonomi," kata Fadli.

Menurutnya, ruwatan rambut gimbal mengandung berbagai nilai penting, mulai dari spiritualitas, penghormatan kepada leluhur, gotong royong, hingga hubungan manusia dengan alam.


Karena itu, tradisi tersebut harus tetap menjadi living tradition. Masyarakat lokal perlu tetap ditempatkan sebagai pemilik, pelaku, pengelola, sekaligus pihak yang memperoleh manfaat utama dari keberlangsungan tradisi.

Regenerasi pengetahuan budaya kepada generasi muda juga menjadi kunci agar ruwatan rambut gimbal tidak sekadar menjadi agenda festival tahunan.

Lebih dari sekadar rambut yang dipotong dan dilarung, ritual tersebut menjadi penanda bahwa warisan budaya Dieng masih hidup dan terus menemukan generasi penerusnya. (Wira)


Banjarnegara, Cakralensa.com – Dinginnya malam di dataran tinggi Dieng seolah tak mampu meredam hangatnya suasana Jazz Atas Awan dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026, Jumat (28/8/2026).

Lapangan Pandawa, Dieng, Banjarnegara, dipadati pengunjung yang ingin menikmati pertunjukan musik di tengah suasana khas pegunungan. Sejumlah musisi tampil bergantian sejak sore hingga malam hari.

Jazz Atas Awan menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan pada hari pertama DCF 2026. Musik mulai terdengar dari kawasan venue selepas sore dan semakin meriah ketika malam tiba.

Penampilan Societeit De Harmonie bersama Natasya Almira menjadi salah satu sajian pembuka yang menghangatkan suasana.

Sekitar pukul 19.00 WIB, giliran Barasuara mengambil alih panggung. Grup musik tersebut membawakan sejumlah lagu, termasuk Terbuang dalam Waktu.

Penonton kemudian diajak menikmati warna musik yang berbeda melalui penampilan Jazz mben Sore. Lagu-lagu Indonesia dikemas dengan sentuhan jazz, salah satunya Sepasang Mata Bola karya Ismail Marzuki.

Namun, antusiasme penonton semakin meningkat ketika Yura Yunita muncul di atas panggung.


Penyanyi tersebut membawakan sejumlah lagu populernya, mulai dari Dunia Tipu-Tipu, Jalan Pulang, hingga Tenang. Penampilannya membuat suasana Lapangan Pandawa semakin semarak.

Tak hanya lagu-lagu populer, Yura juga membawakan Bandung dalam bahasa Sunda. Momen tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian karena penonton ikut menyanyikan lagu tersebut bersama-sama.

Di tengah udara Dieng yang dikenal dingin, ribuan suara penonton justru terdengar menghangatkan kawasan Lapangan Pandawa.


Setelah Yura Yunita menyelesaikan penampilannya, Jazz Kotabaru tampil sebagai penutup rangkaian Jazz Atas Awan hari pertama.

Kemeriahan DCF 2026 tidak hanya berlangsung di panggung musik. Sejak hari pertama, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan yang mengangkat potensi budaya dan ekonomi masyarakat Dieng.

Pameran Domba Batur, pameran UMKM, serta pertunjukan seni budaya turut menjadi bagian dari rangkaian acara.

Sebelum Jazz Atas Awan digelar, pengunjung juga dapat menyaksikan Kongkong Budaya yang menghadirkan Sabrang Damar Panuluh atau Noe Letto bersama Gamelan Kiai Kanjeng.


Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana DCF memadukan tradisi lokal dengan pertunjukan seni dan musik modern dalam satu perhelatan.

Memasuki Sabtu (29/8/2026), kemeriahan DCF 2026 akan berlanjut dengan salah satu tradisi yang menjadi identitas utama festival, yakni ritual cukur rambut gimbal.

Setelah agenda budaya tersebut, pengunjung masih akan disuguhi Jazz Atas Awan hari kedua.

Sejumlah musisi dijadwalkan tampil, di antaranya Raim Laode, Kunto Aji, dan Pusakata.

Malam kedua juga akan semakin istimewa dengan penerbangan lampion yang menjadi salah satu momen yang banyak dinantikan dalam rangkaian Dieng Culture Festival 2026.

Perpaduan tradisi, seni, dan musik inilah yang membuat suasana DCF selalu memiliki daya tarik tersendiri. Di tengah lanskap pegunungan Dieng dan udara dinginnya, festival tersebut kembali menghadirkan pengalaman menikmati budaya sekaligus hiburan dalam satu panggung. (Wira)


Indramayu, Cakralensa.com — Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan kembali ditunjukkan jajaran Brigade Mobil (Brimob) melalui kegiatan bakti sosial pendistribusian air bersih bagi warga yang belum memiliki jaringan air PDAM.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 28 Agustus 2026, di wilayah Desa Tanjakan, RT 15, RT 16, dan RT 17, RW 04, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Bantuan air bersih ini menyasar masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

Pendistribusian air bersih dipimpin oleh Komandan Kompi 4 Batalyon C Pelopor, Iptu Yayan Sriyadi, S.H. Pelaksanaan kegiatan turut mendapat pengawalan dan pendampingan dari jajaran Intel Mob Batalyon C Pelopor, Iptu Gustaf Nandra, didampingi Brigadir Pandu Aji.


Di lapangan, proses pengarahan dan penentuan lokasi penyaluran air kepada warga yang membutuhkan turut didampingi unsur keamanan dan kewilayahan, yakni Kamtibmas Aipda Faisal serta Babinsa Sudono dari Koramil Krangkeng.

Sementara itu, pengisian air bersih menggunakan water cannon dilakukan oleh Bripda Putra, dibantu personel Brimob lainnya, di antaranya Brigadir Pascalla.

Antusiasme warga terlihat sejak kendaraan pengangkut air bersih tiba di lokasi. Masyarakat berbondong-bondong membawa berbagai tempat penampungan untuk diisi air yang akan digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Bagi warga Tanjakan, bantuan tersebut menjadi angin segar di tengah kondisi kekeringan yang semakin menyulitkan. Keterbatasan sumber air membuat sebagian masyarakat harus membeli air dari kendaraan tangki, bahkan air yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan minum dan memasak terpaksa digunakan untuk mandi.

“Selama ini kalau mau mandi, satu galon saja belum tentu cukup. Karena tidak ada air, kami terpaksa membeli air dari mobil tangki. Padahal air tersebut seharusnya untuk minum dan memasak,” ungkap Erni salah seorang warga Tanjakan.

Kondisi tersebut semakin dirasakan berat oleh masyarakat karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air, sementara kebutuhan ekonomi sehari-hari juga semakin meningkat.

“Untuk kebutuhan sembako sehari-hari saja sudah sulit karena harga serba mahal, sekarang ditambah harus membeli air bersih,” keluh Santi warga lainnya.

Di tengah kesulitan tersebut, kedatangan jajaran Brimob membawa kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat. Warga berharap program bakti sosial pendistribusian air bersih dapat terus dilakukan selama musim kemarau panjang masih berlangsung.


“Kami sangat berterima kasih atas kepedulian dan bantuan air bersih dari aparat negara, khususnya Brimob. Semoga program seperti ini dapat terus berlanjut selama musim kemarau. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan ini,” ujarnya.

Kegiatan sosial tersebut juga mendapat dukungan dan keterlibatan dari Dinas BNPB Kabupaten Indramayu, sebagai bagian dari upaya bersama membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.


Bakti sosial pendistribusian air bersih ini tidak hanya menjadi bentuk kepedulian aparat terhadap kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga menjadi wujud nyata kehadiran negara di tengah warga yang sedang menghadapi kesulitan akibat dampak musim kemarau.

Bagi masyarakat Desa Tanjakan, setetes air di tengah kekeringan bukan sekadar bantuan, tetapi menjadi harapan agar kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi dan aktivitas sehari-hari dapat terus berjalan. (Kholid)


Indramayu, Cakralensa.com — Pemerintah Kabupaten Indramayu terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan. Memasuki periode Januari–Juli 2026, berbagai capaian menjadi bagian dari langkah Bupati Indramayu Lucky Hakim dan Wakil Bupati Syaefudin dalam mewujudkan visi Indramayu REANG yang berorientasi pada pemerintahan yang semakin baik, efektif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Salah satu capaian yang menonjol di bidang pemerintahan adalah keberhasilan Kabupaten Indramayu meraih peringkat ke-5 tingkat nasional dan peringkat ke-3 di Provinsi Jawa Barat dalam Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD) Tahun 2025.

Prestasi tersebut menjadi gambaran bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Indramayu terus mengalami peningkatan. EPPD sendiri menjadi salah satu instrumen penting untuk melihat sejauh mana pemerintah daerah mampu menjalankan urusan pemerintahan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat secara efektif.

Capaian di tingkat nasional dan provinsi tersebut sekaligus menjadi modal penting bagi Pemkab Indramayu untuk terus melakukan pembenahan. Prestasi bukan hanya menjadi ukuran keberhasilan, tetapi juga tantangan agar kualitas pelayanan publik, transparansi, akuntabilitas, serta kinerja aparatur pemerintahan dapat terus ditingkatkan.

Bagi masyarakat, capaian tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai angka atau penghargaan semata. Kinerja pemerintahan pada akhirnya harus dapat dirasakan secara nyata melalui pelayanan yang mudah, cepat, transparan, dan semakin dekat dengan kebutuhan warga.

Salah seorang warga Indramayu, Rina (35), mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, prestasi pemerintah daerah akan semakin berarti apabila dibarengi dengan peningkatan pelayanan yang dirasakan langsung masyarakat.

“Prestasi di tingkat nasional tentu membanggakan. Harapannya, keberhasilan itu terus dipertahankan dan dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat, terutama dalam pelayanan publik,” ujarnya.

Senada, Dedi (42), warga lainnya, berharap capaian EPPD dapat menjadi pemacu bagi pemerintah daerah untuk terus berbenah dan menjaga konsistensi kinerja.

“Yang paling penting bukan hanya mendapatkan peringkat, tetapi bagaimana pemerintah terus bekerja dengan baik dan masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan. Kalau itu terwujud, tentu masyarakat akan semakin percaya kepada pemerintah,” katanya.

Di bawah kepemimpinan Bupati Lucky Hakim dan Wakil Bupati Syaefudin, capaian EPPD tersebut menjadi salah satu pijakan dalam perjalanan menuju Indramayu REANG. Pemerintahan yang berprestasi diharapkan bukan sekadar mampu memenuhi indikator penilaian, tetapi juga mampu membangun kepercayaan publik melalui kerja nyata dan pelayanan yang berkualitas.

Dengan semangat evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, Pemkab Indramayu dituntut untuk mempertahankan capaian sekaligus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan pada tahun-tahun berikutnya.

Indramayu REANG pada akhirnya bukan hanya tentang slogan, melainkan tentang bagaimana pemerintahan hadir, bekerja, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Indramayu. (Wira)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget