Indramayu, Cakralensa.com - Langkah Prof. Dr. Ipong Dekawati, M.Pd., tampak tenang usai mengikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) tahap kedua yang diselenggarakan Yayasan Wiralodra Indramayu pada Jumat (27/03/2026). Tidak ada euforia berlebihan, hanya ungkapan syukur yang berulang ia sampaikan seolah menegaskan bahwa perjalanan ini bukan sekedar kompetisi, melainkan bagian dari ikhtiar panjang.
“Alhamdulillah, semua proses berjalan dengan baik,” ujarnya singkat, namun penuh makna.
Di atas kertas, hasilnya berbicara jelas. Dengan nilai 83,31 dari pemeringkatan berbasis AI, Prof. Ipong berada di posisi teratas di antara tiga kandidat calon Rektor Universitas Wiralodra. Di urutan bawahnya, terdapat Dr. M. Zaedi, M.Ag., dengan nilai 76,94, dan Dr. Kambali, M.Pd.I., dengan 68,96. Namun bagi Prof. Ipong, angka bukanlah tujuan akhir.
Baginya, hasil tersebut justru menjadi pengingat bahwa tantangan besar telah menanti di depan.
“Ini menunjukkan bahwa ke depan sudah banyak pekerjaan besar yang harus diselesaikan,” tuturnya.
Di tengah capaian yang menguatkan posisinya, Prof. Ipong memilih untuk tidak larut dalam rasa unggul. Ia menempatkan proses ini dalam sudut pandang religius, sebuah pendekatan yang jarang terlihat dalam narasi kompetisi kepemimpinan modern.
“Saya berdoa semoga yang diberikan adalah yang terbaik menurut Allah, bukan sekadar terbaik menurut saya,” katanya.
Pernyataan itu mencerminkan cara pandangnya terhadap kepemimpinan, bukan sekedar hasil dari proses seleksi, melainkan amanah yang harus dipertanggung jawabkan.
Alih-alih langsung berbicara tentang program besar, Prof. Ipong justru memulai dari sesuatu yang mendasar yaitu evaluasi.
Ia menyadari bahwa tanpa pemahaman utuh terhadap kondisi internal, kebijakan apa pun beresiko tidak tepat sasaran. Saat ini, ia mengakui belum berada di dalam sistem, sehingga langkah pertama yang ia bayangkan bukanlah perubahan drastis, melainkan proses memahami.
“Saya harus masuk terlebih dahulu, memahami kondisi yang ada, baru kemudian merencanakan langkah selanjutnya,” jelasnya.
Evaluasi yang ia maksud tidak hanya menyentuh aspek administratif, tetapi juga menyasar pondasi organisasi, mulai dari tata kelola keuangan hingga dinamika internal kampus.
Di balik pendekatan yang terkesan hati-hati, tersimpan visi jangka panjang yang cukup ambisius yaitu membawa Universitas Wiralodra menjadi institusi yang unggul.
Namun, bagi Prof. Ipong, keunggulan bukan sekedar slogan atau target normatif. Ia melihatnya sebagai hasil dari keselarasan antara strategi dan realitas organisasi.
“Kita ingin mencapai posisi sebagai institusi yang unggul, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan struktur yang ada,” ujarnya.
Ia juga membuka kemungkinan adanya penyesuaian struktur organisasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan efektivitas dan kinerja. Bagi dia, perubahan bukan sesuatu yang dihindari, melainkan harus dikelola dengan cermat.
Meski unggul dalam dua tahap UKK dengan bobot 25 persen pada tahap pertama dan 65 persen pada tahap kedua, Prof. Ipong tetap menyadari bahwa keputusan akhir tidak berada di tangannya. Melainkan penetapan rektor sepenuhnya menjadi kewenangan yayasan.
“Keputusan akhir ada pada yayasan. Itu mekanisme yang harus kita hormati,” tegasnya.
Kesadaran ini kembali menegaskan sikapnya yang konsisten, menjalani proses dengan maksimal, namun tetap menyerahkan hasil akhir pada otoritas yang berwenang dan pada keyakinan yang ia pegang.
Kini, seluruh rangkaian proses hampir mencapai titik akhir. Namun bagi Prof. Ipong, ini bukanlah penutup, melainkan awal dari kemungkinan perjalanan yang lebih besar.
Ia menatap ke depan dengan optimisme yang terukur bukan sekedar tentang posisi, tetapi tentang tanggung jawab yang mungkin akan diemban.
“Yang terpenting adalah memahami kondisi yang ada, lalu menyusun langkah strategis untuk membawa institusi ini menjadi lebih maju dan unggul,” pungkasnya.
Di balik angka 83,31, tersimpan lebih dari sekedar capaian. Ada visi, kehati-hatian, dan keyakinan tiga hal yang bisa menjadi pondasi bagi arah baru Universitas Wiralodra ke depan. (Wira)




Posting Komentar